REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebiasaan makan mi instan di tengah malam mungkin terasa praktis dan menenangkan saat perut keroncongan. Namun dokter jantung memperingatkan bahwa kebiasaan ini dapat membawa dampak serius bagi kesehatan jika dilakukan secara rutin.
Dokter spesilias jantung dr Ayan Kar mengatakan semangkuk mi instan di malam hari tidak hanya berdampak pada tekanan darah, tetapi juga dapat mengganggu fungsi ginjal, metabolisme gula darah, hingga kualitas tidur. Menurut dr Kar, satu porsi mi instan umumnya mengandung sekitar 800 hingga 1.200 mg natrium, yang sebagian besar berasal dari bumbu penyedap. Padahal, rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membatasi asupan natrium harian orang dewasa di bawah 2.000 mg.
"Satu mangkuk mi instan di malam hari bisa membuat tubuh mendekati atau melampaui batas tersebut dalam sekali makan. Natrium menyebabkan tubuh menahan air, sehingga volume darah meningkat. Akibatnya tekanan pada pembuluh darah naik dan jantung bekerja lebih keras," kata dr Kar dilansir laman Hindustan Times, Jumat (5/6/2026).
la menegaskan kondisi ini dapat meningkatkan beban kerja jantung dan dalam jangka panjang berpotensi merusak pembuluh darah, yang kemudian dapat memicu hipertensi. Risiko ini menjadi lebih tinggi pada individu yang sudah memiliki tekanan darah tinggi atau memiliki riwayat keluarga penyakit jantung.
Dokter Kar juga menyebut waktu konsumsi mi instan sangat berpengaruh terhadap dampak kesehatan. Menurutnya, makan mi instan larut malam bisa semakin memperburuk efek kesehatan pada tubuh.
la pun mengungkap beberapa alasan mengapa menyantap mi instan malam hari lebih berbahaya. Pertama karena terganggunya fenomena nocturnal dipping yaitu penurunan tekanan darah alami saat tidur yang berfungsi memberi waktu pemulihan bagi jantung dan pembuluh darah. Konsumsi makanan tinggi garam di malam hari dapat menghambat proses pemulihan alami ini, sehingga tekanan darah tetap tinggì saat tubuh seharusya beristirahat.
Alasan kedua, fungsi ginjal yang bekerja lebih lambat pada malam hari membuat proses pembuangan kelebihan natrium menjadi tidak optimal. Kondisi ini membuat beban sirkulasi darah meningkat lebih lama.
"Ginjal menyaring kelebihan natrium, tetapi pada malam hari prosesnya lebih lambat. Akibatnya, garam bertahan lebih lama di tubuh dan efeknya pada tekanan darah menjadi lebih kuat dan berkepanjangan," ujar dr Kar.