REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan dunia berada di ambang ancaman pandemi yang berpotensi lebih merusak dibandingkan berbagai wabah dalam satu dekade terakhir. Hal ini disampaikan dalam laporan Dewan Pengelola Kesiapan Global (GPMB) bertajuk "A World on the Edge".
Laporan tersebut menyatakan bahwa kesiapan global gagal mengimbangi risiko pandemi. Risiko itu diperburuk oleh beberapa faktor, termasuk perubahan iklim, peningkatan mobilitas, dan konflik bersenjata.
"Meskipun dunia memiliki lebih banyak pengalaman dan teknologi setelah Covid-19, kondisi global justru membuat risiko pandemi semakin meningkat. Jika kesiapsiagaan tidak segera ditingkatkan, pandemi dan darurat kesehatan lainnya mungkin menjadi lebih sering, lebih merusak, dan lebih sulit dikendalikan," demikian kata WHO dilansir laman The National, Kamis (21/5/2026).
Laporan tersebut dirilis sehari setelah wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda dinyatakan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Sedikitnya 80 orang dilaporkan meninggal akibat penyakit tersebut.
WHO menyatakan wabah yang disebabkan oleh virus Bundibugyo ini memang belum memenuhi kriteria darurat pandemi. Namun, risiko penyebarannya ke negara-negara yang berbatasan langsung dengan Kongo dinilai sangat tinggi.
Ini merupakan wabah Ebola ke-17 di DRC, negara tempat virus Ebola pertama kali ditemukan pada 1976. WHO memperingatkan wabah kali ini berpotensi berkembang jauh lebih besar karena tingginya angka positif dari sampel awal dan terus bertambahnya kasus suspek.
"Wabah ini luar biasa karena tidak ada terapi atau vaksin khusus virus Bundibugyo yang disetujui," kata WHO.