Kamis 28 May 2026 07:59 WIB

Bukan Sekadar PMS Biasa: Mengenal PMDD, Saat Mood Swing Menjadi Ekstrem

PMDD disebut dapat memicu tekanan emosional yang jauh lebih berat dibandingkan PMS.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Wanita mengalami Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) (ilustrasi). PMDD dapat memicu tekanan emosional yang jauh lebih berat dibanding PMS.
Foto: Dok. Magnific
Wanita mengalami Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) (ilustrasi). PMDD dapat memicu tekanan emosional yang jauh lebih berat dibanding PMS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernahkah kamu merasa sangat mood swing sebelum menstruasi? Dari rasa sedih, cemas, hingga marah yang muncul tiba-tiba dan sulit kendalikan, kondisi ini selama bertahun-tahun telah dinormalisasi sebagai sindrom pramenstruasi alias PMS.

Namun, jika tekanan emosional menjadi lebih ekstrem, berulang, hingga mengganggu pekerjaan dan aktivitas, bisa jadi itu bukan sekadar PMS. Menurut dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dr Thejaswini, kondisi estrem tersebut bisa menjadi gejala klinis yang lebih serius yaitu Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).

Baca Juga

la menjelaskan PMDD merupakan kondisi yang terjadi pada fase luteal, yaitu periode setelah ovulasi dan sekitar satu pekan sebelum menstruasi dimulai. Menurutnya, PMDD dapat memicu tekanan emosional yang jauh lebih berat dibandingkan PMS.

photo
Mood swing. - (Dok. Freepik)

 

"PMDD sering disalahpahami sebagai ketidakseimbangan hormon biasa, padahal kondisi ini jauh lebih kompleks," kata dr Thejaswini dikutip dari Hindustan Times, Selasa (26/5/2026).

Menurut dia, penderita PMDD bisa mengalami depresi, kecemasan, kemarahan, perubahan emosi estrem, hingga sensitivitas terhadap penolakan. Kondisi tersebut kerap disertai gejala fisik seperti tubuh terasa berat, kelelahan, dan perut terasa kembung.

photo
Perempuan haid (ilustrasi) - (republika)

 

Dia mengatakan sebagian besar perempuan dengan PMDD sebenarnya memiliki kadar estrogen dan progesteron yang normal sepanjang siklus menstruasi. Masalah utamanya terletak pada sensitivitas sistem saraf terhadap perubahan hormon yang terjadi secara alami.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi