Ahad 12 Apr 2026 09:44 WIB

Cuaca Panas Bisa Bikin Lansia Jadi Linglung

Kebutuhan cairan harian sebaiknya dipenuhi sekitar dua liter per hari.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Perkeja melindungi tubuh dari terik matahari menggunakan payung saat berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (18/12/2023). BMKG mengungkapkan fenomena suhu panas meningkat terjadi beberapa hari ini disebabkan oleh aktivitas dinamika atmosfer yang berdampak pada naik turunnya suhu permukaan laut sehingga potensi curah hujan rendah untuk wilayah Indonesia. Deputi Bidang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Guswanto mengatakan potensi curah hujan rendah tersebut diketahui dari analisis kondisi iklim global.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Perkeja melindungi tubuh dari terik matahari menggunakan payung saat berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (18/12/2023). BMKG mengungkapkan fenomena suhu panas meningkat terjadi beberapa hari ini disebabkan oleh aktivitas dinamika atmosfer yang berdampak pada naik turunnya suhu permukaan laut sehingga potensi curah hujan rendah untuk wilayah Indonesia. Deputi Bidang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Guswanto mengatakan potensi curah hujan rendah tersebut diketahui dari analisis kondisi iklim global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia diprediksi akan mengalami fenomena El Nino tahun ini, yang dapat memicu kemarau panjang dan cuaca lebih panas dalam beberapa bulan ke depan. Sekretaris Jenderal Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI), dr Putro S Muhammad, menekankan bahwa individu lanjut usia (lansia) menjadi salah satu kelompok rentan dalam kondisi ini.

Menurut dr Putro, cuaca panas ekstrem dapat menyebabkan lansia menjadi linglung, pusing, dan lemas akibat kekurangan cairan atau dehidrasi. la menjelaskan bahwa dehidrasi mengurangi volume darah, sehingga otak kekurangan oksigen dan nutrisi yang menyebabkan disorientasi.

Baca Juga

"Kondisi ini sering keliru dianggap sebagai gangguan otak murni, padahal sebenarnya disebabkan oleh kurangnya cairan. Setelah kebutuhan cairan tercukupi, biasanya akan membaik," kata dr Putro saat dihubungi Republika, Kamis (9/4/2026).

Selain itu, menurut dr Putro, fungsi ginjal lansia menurun seiring usia sehingga perlu diperhatikan frekuensi buang air kecil. Jika tiba-tiba lansia tidak buang air kecil sepanjang hari, hal ini bisa menjadi tanda bahaya.

"Nah, perlu dicek kalau di lansia itu buang air kecilnya gimana frekuensinya. Apakah tiba-tiba jadi tidak buang air kecil seharian, atau urinenya gelap, itu juga tanda-tanda," ujar dr Putro.

Faktor jantung juga penting diperhatikan. Menurut dr Putro, lansia dengan riwayat penyakit jantung atau ginjal perlu pengawasan lebih ketat, termasuk saat pemberian cairan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement