Ahad 08 Mar 2026 15:37 WIB

Cegah Penyebaran Campak, Kemenkes Imbau Masyarakat Tidak Asal Sentuh Bayi Saat Lebaran

Kebiasaan menyentuh bayi dan balita berisiko meningkatkan penularan campak.

Tenaga kesehatan menyuntikan vaksin imunisasi kepada anak di RPTRA Flamboyan, Kelurahan Menteng Dalam, Jakarta Selatan, Rabu, (4/6/2025). Puskesmas Kecamatan Tebet menggelar Gebyar Imunisasi  sebagai upaya meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap serta mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak-anak usia dini. Vaksin imunisasi yang diberikan dalam kegiatan ini diantaranya Bacile Calmerte Guerin (BCG), Difteri Pertusis dan Detanus (DPT), Campak, Pneumococcal Conjugate Vaccine 3 (PCV3) dan sebagainya.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Tenaga kesehatan menyuntikan vaksin imunisasi kepada anak di RPTRA Flamboyan, Kelurahan Menteng Dalam, Jakarta Selatan, Rabu, (4/6/2025). Puskesmas Kecamatan Tebet menggelar Gebyar Imunisasi sebagai upaya meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap serta mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak-anak usia dini. Vaksin imunisasi yang diberikan dalam kegiatan ini diantaranya Bacile Calmerte Guerin (BCG), Difteri Pertusis dan Detanus (DPT), Campak, Pneumococcal Conjugate Vaccine 3 (PCV3) dan sebagainya.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menyentuh bayi maupun anak-anak sebagai salah satu kelompok rentan guna mencegah penularan penyakit campak, khususnya saat musim libur Lebaran mendatang. Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan kebiasaan menyentuh bayi maupun anak-anak, khususnya saat berkumpul bersama keluarga, perlu dihindari karena dapat meningkatkan potensi penularan penyakit campak.

“Kebiasaan menyentuh bayi maupun balita saat kita kumpul-kumpul, terutama saat Lebaran, sebaiknya memang dikurangi atau bahkan dihindari karena risiko penularan tinggi,” kata Andi dalam konferensi pers Update Kasus Campak di Indonesia yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, dikutip Ahad (8/3/2026).

Baca Juga

Lebih lanjut, ia juga mengimbau individu agar tidak melakukan aktivitas berkumpul atau berkerumun apabila memiliki tanda maupun gejala yang mengarah pada campak.

Individu dengan gejala demam maupun ruam kemerahan, kata dia, sebaiknya menghindari kontak dengan individu sehat dan segera melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Khusus kepada individu yang memiliki gejala demam, ada tanda-tanda suspek campak seperti ruam kemerahan, sebaiknya tidak kumpul-kumpul, kemudian tidak pergi ke tempat-tempat, termasuk tempat wisata maupun tempat keramaian lainnya. Sebaiknya di rumah saja,” tegas Andi.

Ia menilai pola peningkatan kasus campak dalam beberapa tahun terakhir kerap berkaitan erat dengan periode libur panjang yang memicu aktivitas berkumpul masyarakat.

“Kami perhatikan ada hubungan antara kejadian kasus ini dengan adanya perayaan-perayaan yang bersifat berkumpul. Kami melihat tren selama lima tahun terakhir. Kasus cenderung mulai meningkat pada awal tahun, kemudian menurun, dan akan naik lagi sekitar Agustus, September, Oktober, dan November,” imbuhnya.

Karena itu, ia kembali mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak, serta mengurangi kontak dengan individu sehat.

“Apabila ada anggota keluarga atau anak sakit, maka segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kurangi kontak dengan orang sehat untuk mencegah penularan,” ujarnya.

 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement