Jumat 06 Mar 2026 12:15 WIB

KLB Campak Muncul di Banyak Daerah, Menkes Minta Orang Tua Lengkapi Imunisasi Anak

Pemerintah mengingatkan imunisasi menjadi kunci menekan penularan campak.

Tenaga kesehatan menyuntikan vaksin imunisasi kepada anak di RPTRA Flamboyan, Kelurahan Menteng Dalam, Jakarta Selatan, Rabu, (4/6/2025). Puskesmas Kecamatan Tebet menggelar Gebyar Imunisasi  sebagai upaya meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap serta mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak-anak usia dini. Vaksin imunisasi yang diberikan dalam kegiatan ini diantaranya Bacile Calmerte Guerin (BCG), Difteri Pertusis dan Detanus (DPT), Campak, Pneumococcal Conjugate Vaccine 3 (PCV3) dan sebagainya.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Tenaga kesehatan menyuntikan vaksin imunisasi kepada anak di RPTRA Flamboyan, Kelurahan Menteng Dalam, Jakarta Selatan, Rabu, (4/6/2025). Puskesmas Kecamatan Tebet menggelar Gebyar Imunisasi sebagai upaya meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap serta mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak-anak usia dini. Vaksin imunisasi yang diberikan dalam kegiatan ini diantaranya Bacile Calmerte Guerin (BCG), Difteri Pertusis dan Detanus (DPT), Campak, Pneumococcal Conjugate Vaccine 3 (PCV3) dan sebagainya.

REPUBLIKA.CO.ID,Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengingatkan pentingnya imunisasi untuk menghadapi kejadian luar biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah. Pasalnya, penyakit tersebut dapat menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak.

"Kita amati di awal tahun ini banyak yang terkena, jadi harus benar-benar kita tekan cepat. Kalau tidak, dia menular ke mana-mana. Apalagi sudah dekat Lebaran," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin saat ditemui usai penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak di Jakarta, dikutip Jumat (6/3/2026).

Baca Juga

"Salah satu instrumen yang paling penting adalah imunisasi," tambah Menkes.

Dia mengingatkan bahwa vaksin campak sudah lama digunakan dan terbukti efektif menekan penyebaran penyakit tersebut. Secara khusus, dia menyoroti pentingnya orang tua memberikan perlindungan kepada anak-anak dengan memberikan imunisasi campak.

Tidak hanya itu, terdapat potensi risiko ketika anak di bawah lima tahun terinfeksi campak karena dapat berakibat fatal.

"Enggan imunisasi akibatnya anaknya tidak terproteksi. Dia kena, dia menularkan ke yang lain. Jadi perlu diingat, imunisasi bukan hanya buat anaknya sendiri, tetapi juga buat lingkungan sekolah dan teman-temannya," tuturnya.

Sebelumnya, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperlihatkan jumlah suspek campak pada 2025 tercatat sebanyak 63.769 kasus dengan 67 kematian. Sementara itu, jumlah suspek campak pada 2026 tercatat sebanyak 8.810 kasus dengan 5 kematian.

Data yang sama memperlihatkan bahwa sekitar 67 persen dari kasus konfirmasi campak tidak memiliki riwayat imunisasi.

Pada 2025, KLB campak dilaporkan terjadi di 87 kabupaten/kota. Sementara itu, pada awal 2026 terjadi KLB di 24 kabupaten/kota.

Terdapat 10 kabupaten/kota yang mengalami KLB campak selama dua tahun berturut-turut, yaitu Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kota Padang, Kabupaten Garut, Kabupaten Sleman, Kabupaten Jember, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Tojo Una-Una, dan Kota Makassar.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement