Kamis 22 Jan 2026 17:14 WIB

Dokter Sebut Brain Fog Bisa Jadi Tanda Penyakit Jantung

Masyarakat diimbau tak mengabaikan perubahan pada kemampuan berpikir dan daya ingat.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Wanita mengalami brain frog (ilustrasi). Kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, atau kabut otak (brain fog) kerap dianggap sebagai masalah otak semata. Namun, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal penyakit jantung yang sering tidak disadari.
Foto: www.freepik.com.
Wanita mengalami brain frog (ilustrasi). Kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, atau kabut otak (brain fog) kerap dianggap sebagai masalah otak semata. Namun, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal penyakit jantung yang sering tidak disadari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, atau kabut otak (brain fog) kerap dianggap sebagai masalah otak semata. Namun, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal penyakit jantung yang sering tidak disadari.

Dokter spesialis kardiologi intervensi, dr Sanjay Bhojraj, menjelaskan bahwa tidak semua gangguan jantung muncul dengan gejala klasik seperti nyeri dada atau sesak napas. Dalam beberapa kasus, tanda-tandanya justru hadir secara samar melalui gangguan kognitif.

Baca Juga

la mengaku kerap menemukan pasien yang datang dengan keluhan gangguan memori, tanpa menyadari bahwa penyebabnya adalah penyakit kardiovaskular yang belum terdiagnosis. "Saya telah menghabiskan lebih dari 20 tahun sebagai kardiolog konvensional dan kini mempraktikkan pengobatan integratif dengan fokus pada longevity. Dan semakin banyak penelitian yang membuktikan bahwa kesehatan otak sangat bergantung pada kesehatan jantung," kata dia seperti dikutip dari Hindustan Times, Kamis (22/1/2026).

Dokter Bhojraj menceritakan pengalamannya menangani seorang pasien pria berusia 58 tahun yang bekerja sebagai eksekutif. Pasien tersebut mengeluhkan sering lupa nama dalam rapat. "Tidak ada nyeri dada. Tidak ada sesak napas. Hanya brain fog," kata dr Bhojraj.

Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan melalui tes laboratorium, ditemukan bahwa penanda vaskular pasien tersebut berada di luar batas normal. Kondisi itu menyebabkan sirkulasi darah berkurang, sehingga pasokan oksigen ke otak menjadi terbatas.

"Kami berhasil mendeteksinya lebih awal, sebelum muncul gejala jantung yang lebih serius," kata dia.

Dia menambahkan bukti ilmiah mendukung temuan tersebut. la merujuk pada penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Cerebral Blood Flow & Metabolism tahun 2024. "Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bahkan gangguan ringan pada fungsi kardiovaskular dapat mengurangi perfusi otak, yang secara langsung berdampak pada memori, fokus, dan kemampuan kognitif," kata dia.

Dokter Bhojraj pun mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan pada kemampuan berpikir dan daya ingat. Menurutnya, brain fog sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah neurologis semata, melainkan juga kemungkinan indikasi awal gangguan jantung.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ameera Network (@ameeranetwork)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement