REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Obesitas merupakan masalah kesehatan yang umum ditemukan di masyarakat yang salah satunya juga menyerang remaja. Obesitas dapat menjadi bahaya tersendiri karena dapat menyebabkan munculnya penyakit lain seperti diabetes, kadar kolesterol yang tinggi, dan tekanan darah tinggi.
Tanpa kita sadari, banyak hal yang dapat memicu obesitas pada remaja, salah satunya kurangnya waktu tidur. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr Nur Aisiyah Widjaja, mengatakan kebiasaan jam tidur yang kurang dapat meningkatkan risiko obesitas.
"Perlu regulasi jam tidur yang tepat, maksimal pukul 21.00 yang mana hormon melatonin yang mengatur regulasi tidur akan meningkat perlahan dari pukul 20.00. Apabila tidur melebihi pukul 21.00, maka hormon melatonin akan digantikan dengan hormon leptin yang dapat memberikan rasa lapar dan keinginan untuk sekedar ngemil atau makan meningkat," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (6/1/2026)
Aisiyah menyebut kebiasaan tidur larut malam biasanya dibarengi dengan kegiatan makan camilan yang kurang baik dimakan saat malam hari. Umumnya banyak remaja yang makan mi instan dan terkadang ditambah telur sebagai campurannya. Tidak jarang juga remaja banyak yang memakan gorengan sebagai cemilan.
"Makan mi instan pada malam hari tentunya tidak direkomendasikan karena jumlah kalorinya yang tinggi, apalagi jika ditambah dengan telur yang mengandung protein dan juga lemak. Tambahan tersebut juga akan menambah asupan kalori yang masuk pada tubuh, terlebih saat malam hari tubuh tidak terlalu aktif bergerak sehingga berisiko besar munculnya obesitas," kata dia.
Selain berkaitan dengan obesitas, kurangnya waktu tidur juga dapat dipengaruhi oleh stres. Saat stres, tubuh dapat melepaskan hormon kortisol dan peningkatan hormon kortisol akan mengganggu pelepasan melatonin yang mengatur tidur. Karena itu penting menjaga stres tubuh, tidak hanya menjaga pola makan.
"Usahakan tidur pukul 21.00 malam dan makan terakhir di jam 7 serta pengerjaan tugas kebut semalam. Perhatikan durasi tidur karena dapat memicu terjadinya obesitas yang berdampak Sindrom Metabolik (risiko diabetes, penyakit jantung koroner dan penyakit yang berhubungan dengan penyakit non communicable disease (NCD)," kata Aisiyah.
View this post on Instagram