REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi yang mereka tumbuh pada 1990-an mungkin cukup akrab dengan serial televisi "Legends of the Condor Heroes" atau yang lebih dikenal Pendekar Pemanah Rajawali. Sutradara Tsui Hark mencoba menghadirkan kembali kisah silat romantis kolosal yang diadaptasi dari novel wuxia Jin Yong ke versi yang lebih modern.
Tsui yang terkenal dengan serial film Once Upon a Time in China, tampaknya ingin memperkenal kisah epik ini ke audiens yang lebih muda. Sayangnya ia kurang berhasil menerjemahkan ulang kisah rumit tentang perang yang tak pernah usai, cinta berliku, dan kesetiaan pada Tanah Air ke dalam film berdurasi dua jam lebih.
Bagi penonton baru, Legends of the Condor Heroes: The Gallants lebih seperti gabungan cuplikan banyak episode sebuah cerita yang lebih panjang. Memepatkan kisah cinta Gou Jin dan Huang Rong dengan ragam emosinya: kekecewaan, penyesalan, dan pengorbanan, membuat berbagai adegan yang bertujuan untuk menunjukkannya membingungkan.
Versi baru "Legend of the Condor Heroes" ini setia hingga ke titik yang mungkin berlebihan. Jelas ini bukan kisah yang mudah diadaptasi, terlebih cerita ini sudah melekat bagi banyak orang. Tapi pengalaman Tsui selama empat dekade lebih membuat film ini tidak terlalu buruk baik bagi mereka yang ingin bernostagia atau bahkan penonton baru.
Tsui meramu perang dengan sangat apik. Ia menghadirkan pertempuran yang brutal, taktis, dan pragmatis. Computer-Generated Imagery (CGI) di setiap pertarungan kungfu tidak mengorbankan koreografi indah khas film aksi Asia.
Pertempuran di medan perang dan pertarungan dua pendekar disuguhkan dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Para tentara berbaris, membuat formasi, dan bergerak sesuai komando. Para jenderal menyusun taktik dan meneriakan perintah-perintah.
Sementara Gou Jin dan musuh bebuyutannya Racun-Barat adu jurus, saling melempar tenaga dalam dan terbang. Pertarungan Gou Jin dengan beberapa musuhnya diracik indah, dengan pisau-pisau terbang, topi setajam pedang, dan jarum-jarum beracun khas film kungfu China.
Di film ini Tsui menunjukkan China tidak hanya memiliki kungfu tapi cendikiawannya juga mewariskan berbagai strategi perang kompleks. Legends of the Condor Heroes: The Gallants memang film aksi kolosal tapi kisahnya diawali dari cerita cinta.
Guo Jing (Xiao Zhan), seorang anak klan Song yang dibesarkan Gengis Khan di antara suku Mongol, jatuh cinta pada Huang Rong (Zhuang Dafei) yang bebas, yang menolak didefinisikan oleh tindakan ayahnya yang jahat, Sesat Timur. Guo mencintai Huang karena ia juga tidak suka pada "aturan yang membosankan".
Katalis film ini dimulai ketika Gou Jing marah setelah mengira guru-gurunya: tujuh pendekar aneh dibunuh Sesat Timur. Setelah menyadari ia hanya salah paham Gou Jing kembali mencari Huang Rong.
Perjalanan mereka untuk bertemu kembali diperumit perang, ambisi Racun-Barat mendapatkan jurus terkuat di dunia dan keputusan Genghis Khan menaklukan Song yang menolak memberinya jalan untuk menghancurkan Dinasti Jin yang jahat.
Legends of the Condor Heroes: The Gallants megah, indah, dan romantis. Meski mungkin penggemar lama sedikit kecewa karena plotnya lebih mirip tumpukan cuplikan adegan tapi mereka tetap bisa bernostalgia dengan karakter-karakter yang mengesankan. Bahkan Legends of the Condor Heroes: The Gallants mungkin dapat menarik penggemar baru. Mereka yang terkesan dengan pertempuran cepat dan elok, atau perang tak berkesudahan, akan mencari lebih dalam epos Pendekar Rajawali.