Selasa 21 May 2024 00:31 WIB

Polisi Sebut Kenakalan Remaja Bermula dari Merokok dan Nongkrong Ditemani Alkohol

Orang tua diajak mengawasi pergaulan anak untuk mencegah terjadinya kenakalan remaja.

Rep: Antara/ Red: Qommarria Rostanti
Tawuran remaja (ilustrasi). Polisi menyebut kenakalan anak itu bermula dari mencoba kebiasaan merokok serta nongkrong-nongkrong ditemani alkohol.
Foto: Foto : MgRol_92
Tawuran remaja (ilustrasi). Polisi menyebut kenakalan anak itu bermula dari mencoba kebiasaan merokok serta nongkrong-nongkrong ditemani alkohol.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Gidion Arif Setyawan mengajak orang tua mengawasi pergaulan anak mereka. Menurut dia, hal itu penting dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya kenakalan remaja.

"Kami mengajak para orang tua dan keluarga untuk mengawasi pergaulan putra dan putri mereka di lingkungan sekolah serta lingkungan permainannya," kata Kombes Pol Gidion di Jakarta, Senin (20/5/2024).

Baca Juga

Ia mengatakan kenakalan anak itu bermula dari mencoba kebiasaan merokok serta nongkrong-nongkrong ditemani alkohol. Hal ini disampaikan saat mengunjungi anak-anak yang bermain di bawah jembatan Tol Penjaringan. Gidion disambut anak-anak yang sedang bermain dan melepas penat bersama orang tuanya.

“Hari ini kami sengaja mendatangi anak-anak di bawah tol Penjaringan,” kata alumni Akademi Kepolisian 1996 tersebut.

Gidion menyempatkan diri berbincang dengan salah satu orang tua anak yang pernah bermasalah dengan hukum. “Kebetulan, saya juga berkomunikasi dengan ibu Nurlela yang anaknya berhadapan dengan hukum,” katanya. Ia mengatakan kegiatan yang dilakukannya dapat memberikan semangat dan solusi kepada keluarga yang membutuhkan perhatian.

“Semoga menjadi penyemangat bagi keluarga di sini,” kata dia.

Menurut dia meski pernah berkonflik dengan hukum setiap anak itu punya hak hidup dan menggapai kesuksesan. "Kesuksesan adalah hak setiap anak, jangan kecil hati tapi nyalakan api semangat berbuat yang terbaik,” kata dia.

Sementara orang tua anak tersebut, Nurlela mengatakan anaknya yang berinisial S (17) sering membantu orang tua saat di rumah. “Anaknya pendiam tapi rajin membantu orang tua,” kata dia.

Ia mengungkapkan anak pertamanya bermasalah dengan hukum karena diajak oleh teman-temannya. “Kalau di rumah anaknya baik, tapi kan kita tidak tahu teman-temannya di luar sana. Makanya dia dua kali berkonflik dengan hukum,” kata dia.

Dirinya berharap anaknya dapat menyesali setiap hukuman yang pernah dijalani di Lembaga Permasyarakatan (LP). “Semoga dia bisa Insyaf, nanti kalo ada uang akan lanjut sekolah karena pendidikan itu sangat penting,” katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement