Kamis 18 Apr 2024 16:53 WIB

Kena Lupus, Toni Braxton Pernah Diminta Rahasiakan Penyakitnya

Penyakit Toni Braxton sempat salah didiagnosis selama 10 tahun.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda
Penyanyi Toni Braxton menghadiri American Music Awards di Los Angeles, California, AS, 24 November 2019. Braxton mengidap penyakit lupus.
Foto: EPA-EFE/NINA PROMMER
Penyanyi Toni Braxton menghadiri American Music Awards di Los Angeles, California, AS, 24 November 2019. Braxton mengidap penyakit lupus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyanyi Toni Braxton pernah diminta untuk menyembunyikan fakta bahwa dirinya mengidap lupus demi kelancaran karier bermusiknya. Situasi ini cukup berat bagi Braxton, mengingat dia harus berjuang selama 10 tahun untuk mendapatkan diagnosis penyakit yang tepat.

"Saya diminta (oleh manajemen) untuk menyembunyikan bahwa saya mengidap lupus, katanya, 'Jangan beritahu siapa pun'," ungkap wanita berusia 56 tahun tersebut dalam siaran podcast "SHE MD", seperti dilansir People pada Kamis (18/4/2024).

Baca Juga

Menurut pihak manajemen, Braxton perlu menyembunyikan penyakitnya karena orang-orang pada saat itu merasa takut berada dekat dengan selebritas yang sakit. Situasi ini membuat Braxton sulit mendapatkan asuransi untuk penyakitnya.

Ahli rheumatologi sekaligus mantan presiden Lupus Foundation of America, dr Daniel Jeffrey Wallace, Braxton bukan satu-satunya selebritas yang menyembunyikan fakta bahwa dia mengidap lupus. Dokter Wallace menyatakan bahwa ada cukup banyak selebritas dengan lupus yang enggan terbuka mengenai kondisi mereka.

"Masalahnya adalah kita mempunyai selebritas-selebritas dengan lupus, namun tak satu pun dari mereka mau terbuka mengakuinya," kata dr Wallace.

Braxton lalu menimpali, para selebritas tersebut mungkin enggan terbuka karena khawatir sulit mendapatkan pekerjaan. Kesulitan ini juga pernah Braxton alami sendiri setelah dirinya kedapatan pingsan di atas panggung.

Selain harus menghadapi stigma negatif, Braxton juga mengalami kesulitan karena penyakitnya sulit terdeteksi. Selama 10 tahun, Braxton menemui enam dokter berbeda dan tak berhasil mendapatkan diagnosis penyakit yang tepat.

Situasi ini sempat membuat Braxton merasa bahwa dirinya seperti pengidap hipokondria. Alasannya, dia kerap merasa sakit, namun dokter tidak bisa menemukan penyebab rasa sakit yang dia alami. Hipokondria merupakan sebuah gangguan kecemasan yang membuat penderitanya meyakini bahwa dia mengidap suatu penyakit serius meski sebenarnya baik-baik saja secara fisik.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement