Rabu 27 Mar 2024 19:06 WIB

Selena Gomez Kena Body Shaming, Fans Bilang Akibat Penyakit Lupus

Beberapa penggemar mengecam tindakan intimidasi terhadap Selena Gomez.

Rep: Santi Sopia/ Red: Qommarria Rostanti
Selena Gomez. Selena Gomez mengalami body shaming karena perubahan bentuk tubuh.
Foto: Jordan Strauss/Invision/AP
Selena Gomez. Selena Gomez mengalami body shaming karena perubahan bentuk tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktris dan penyanyi Selena Gomez menghadapi perundungan daring karena perubahan tubuhnya. Meski ada yang merundung, beberapa penggemar tampaknya tetap memberikan dukungan dan mengecam tindakan intimidasi terhadap Gomez.

 

Baca Juga

Pada 24 Maret, Selena Gomez mengunggah foto dengan pakaian terbuka. Foto-foto tersebut memperlihatkan Gomez dengan rambut cokelat bergelombangnya yang tergerai di bahu. Namun Gomez malah kena body shaming.

Setelah kejadian tersebut, para penggemar bereaksi keras terharap komentar-komentar yang menghina tubuh idola mereka. Seorang penggemar menulis, “Selena Gomez berjuang untuk hidupnya karena dia menderita penyakit autoimun yang disebut lupus eritematosa sistemik. mengolok-olok berat badannya padahal Anda tahu betul bahwa dia mengidap penyakit itu menjijikkan".

Selena telah menderita lupus selama lebih dari satu dekade. Lupus merupakan penyakit autoimun yang menyerang wanita berusia 15-45 tahun. Selena bercerita tentang perjalanannya melawan penyakit ini, termasuk transplantasi ginjal dan perawatan kemoterapi, serta bagaimana hal itu memengaruhi kesehatan mentalnya. 

Dikutip dari laman WebMD, Selasa (26/3/2924), banyak orang yang menderita lupus aktif merasa kesakitan. Mereka mengalami demam, penurunan berat badan, dan kelelahan. Ketika sistem kekebalan tubuh menyerang organ atau bagian tubuh tertentu, penderitanya juga dapat mengalami masalah yang lebih spesifik. 

Lupus dapat memengaruhi bagian kulit, sendi, ginjal, darah. Orang dengan lupus mungkin memiliki jumlah sel darah merah, sel darah putih, atau trombosit (partikel yang membantu pembekuan darah) yang sangat rendah. Lalu bisa memengaruhi otak dan sumsum tulang belakang. Selain itu, masalah jantung dan paru-paru sering kali disebabkan oleh peradangan pada jaringan yang menutupi jantung (perikardium) dan paru-paru (pleura). 

Dokter belum mengetahui secara pasti penyebab lupus. Namun menurut para ilmuwan, ada beberapa risiko seperti bisa dikarenakan genetik, hormon, lingkungan, asap rokok, dan obat-obatan.

Perawatan lupus akan bergantung pada beberapa hal termasuk usia, kesehatan secara keseluruhan, riwayat kesehatan, bagian tubuh mana yang terkena, dan seberapa parah kasusnya. Karena lupus dapat berubah seiring berjalannya waktu, penting untuk melakukan kunjungan rutin ke dokter, seperti spesialis yang disebut ahli reumatologi.

Beberapa orang dengan kasus ringan tidak memerlukan pengobatan. Mereka yang memiliki gejala yang lebih serius seperti masalah ginjal mungkin memerlukan obat yang kuat. Obat-obatan yang mengobati lupus antara lain:

-Benlysta (belimumab). Obat ini bersifat biologis, artinya meniru protein alami. 

-CellCept (mikofenolat mofetil). Semakin banyak dokter yang menggunakan obat ini untuk mengobati gejala lupus yang serius, terutama pada orang yang telah mengonsumsi Cytoxan. 

-Cytoxan (siklofosfamid). Obat kemoterapi ini juga melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda. 

-Imuran (azatioprin). Ini mengobati gejala lupus yang serius. 

-Plaquenil (hidroksiklorokuin). Obat ini membantu mengendalikan masalah ringan terkait lupus, seperti penyakit kulit dan sendi. 

-Reumatrex (metotreksat). Obat kemoterapi lain yang melemahkan sistem kekebalan Anda. 

-Rituxan (rituximab). Obat biologis yang mengobati limfoma dan artritis reumatoid. 

-Saphnelo (anifrolumab-fnia). Imunosupresan suntik terbaru ini ditujukan untuk pengobatan pasien dewasa penderita SLE sedang hingga berat yang mendapatkan terapi standar.

-Steroid. Anda bisa mengoleskan krim steroid langsung pada ruam. 

Beberapa orang menggunakan pengobatan komplementer atau alternatif untuk meringankan gejala lupus. Namun tidak ada bukti bahwa salah satu dari obat tersebut dapat mengobati atau menyembuhkan penyakit tersebut. Beberapa suplemen herbal bahkan dapat berinteraksi dengan obat resep atau memperburuk gejala Anda. Selalu konsultasi dengan dokter sebelum memulai perawatan apa pun. 

 

 

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement