Selasa 19 Mar 2024 15:38 WIB

Kepala BKKBN: Lingkungan Berpengaruh Besar Turunkan Stunting

Pemerintah daerah perlu mendorong program yang sensitif terhadap stunting.

Petugas kesehatan mengukur lingkar kepala balita saat pelayanan Posyandu di Kantor kelurahan Maliaro, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (18/3/2024).
Foto: ANTARA FOTO/Andri Saputra
Petugas kesehatan mengukur lingkar kepala balita saat pelayanan Posyandu di Kantor kelurahan Maliaro, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (18/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyampaikan lingkungan yang termasuk ke dalam faktor sensitif sangat berpengaruh besar dalam menurunkan angka stunting. Untuk itu ia menekankan agar ada gerakan-gerakan dan program dari kepala desa maupun program-program khusus di tingkat daerah, yang fokus memperhatikan faktor-faktor sensitif yang memengaruhi angka stunting.

"Yang sangat besar terhadap percepatan penurunan stunting itu sebenarnya lingkungan, pengaruhnya 70 persen. Lingkungan kita masih banyak yang kumuh, jambannya belum sesuai standar, dan rumah yang tidak layak huni juga masih cukup banyak," ujar Hasto dalam webinar praktik baik desa/kelurahan bebas stunting yang diikuti di Jakarta, Selasa (19/3/2024).

Baca Juga

Di sisi lain Hasto mengapresiasi capaian desa yang sudah memperhatikan bagaimana agar masyarakat tidak buang air besar sembarangan dan kini persentasenya sudah mencapai 57 persen.

"Hari ini desa yang memperhatikan bagaimana agar tidak buang air besar sembarangan juga sudah mencapai angka 57 persen, meski targetnya (2024) 90 persen, artinya desa yang sudah melakukan gerakan setop buang air besar di sembarang tempat sudah mulai meningkat," tuturnya.

Ia juga menyebutkan pada tahun 2023 persentase desa yang melaksanakan sanitasi bebas dari kekumuhan juga sudah meningkat serta perhatian terhadap konvergensi percepatan penurunan stunting sudah cukup bagus.

Dokter spesialis kandungan itu juga mengapresiasi pencapaian target daerah di dalam penanganan Program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), khususnya Bina Keluarga Balita (BKB).

"Peran desa dalam penyelenggaraan BKB sudah cukup bagus. Gerakan ayo ke posyandu dan BKB harus terus kita gelorakan oleh kepala desa, pimpinan PKK, juga teman-teman pemantik pendamping keluarga," ucapnya.

Ia juga menekankan agar BKB tidak hanya terbatas pada memperhatikan tumbuh kembang anak, tetapi juga faktor lingkungan yang memengaruhinya.

"Saya berharap BKB itu tidak hanya memperhatikan balitanya, tetapi juga lingkungan yang memengaruhi tumbuh kembang balita tersebut," ujar Hasto Wardoyo.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement