Jumat 15 Mar 2024 21:23 WIB

Dokter Spesialis Mata Sebut Glaukoma Sebagai Silent Killer

Dampak glaukoma akan timbul berangsur-angsur hingga penderitanya mengalami kerusakan.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ani Nursalikah
Pasien glaukoma (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com
Pasien glaukoma (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Dokter spesialis mata Universitas Airlangga (Unair) Yulia Primitasari mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai glaukoma. Glaukoma merupakan suatu kondisi kerusakan pada syaraf mata yang menyebabkan penyempitan lapang pandangan.

Salah satu faktor yang menyebabkan seseorang mengalami glaukoma yakni adanya tekanan berlebih pada bola mata.

Baca Juga

Yulia mengatakan, glaukoma menjadi salah satu penyakit silent killer. Pasalnya, orang yang mengidap glaukoma tidak merasakan dampak negatif secara langsung, namun dampak tersebut akan timbul berangsur-angsur hingga penderitanya mengalami kerusakan mata.

"Pada dasarnya lapang pandang itu menghilang dari tepian mata. Hal ini terkadang menjadi luput dalam memeriksa mata. Penyakit glaukoma ini tidak mendadak munculnya. Bisa jadi sudah mengalami, namun tidak terasa hingga menimbulkan kerusakan," kata Yulia, Kamis (14/3/2024).

Yulia menerangkan, salah satu langkah preventif yang dapat dilakukan yakni dengan skrining secara berkala. Skrining berkala dapat dilakukan utamanya bagi mereka yang usianya di atas 50 tahun, untuk mendeteksi lebih awal dan menghindari keparahan.

Selain itu, orang yang memiliki riwayat penyakit bawaan dari keluarga juga menurutnya harus melakukan skrining berkala. Riwayat penyakit bawaan, kata dia, dapat meningkatkan faktor risiko daripada orang yang tidak memiliki riwayat penyakit bawaan.

"Skrining ini merupakan hal penting untuk mencegah glaukoma. Karena jika tidak dilakukan skrining berkala secara dini akan menimbulkan kerusakan mata yang parah hingga mengalami kebutaan permanen," ujarnya.

Yulia melanjutkan, meskipun tidak dapat sembuh sepenuhnya, namun glaukoma dapat dilakukan pengobatan untuk mencegah keparahan. Salah satunya, pemberian obat penurun tekanan pada mata. Dengan harapan, obat tersebut bekerja untuk mengembalikan tekanan mata ke titik normal.

"Jika pemberian obat ini kurang efektif biasanya kita melakukan pengobatan lanjutan yakni melakukan laser atau pembedahan. Namun, sebelum melakukan pengobatan lanjutan harus melihat dari faktor risiko dan komplikasi yang diidap oleh orang dengan glaukoma," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement