Kamis 21 Mar 2024 21:37 WIB

Cegah Kerusakan Mata Permanen, Pasien Glaukoma Punya Waktu 2x24 Jam untuk Lakukan Ini

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak.

Penderita glaukoma (ilustrasi). Pasien yang terkena glaukoma akut memiliki waktu 2x24 jam untuk menurunkan tekanan bola mata.
Foto: www.freepik.com
Penderita glaukoma (ilustrasi). Pasien yang terkena glaukoma akut memiliki waktu 2x24 jam untuk menurunkan tekanan bola mata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr Widya Artini Wiyogo, Sp M(K) mengimbau pasien yang terkena glaukoma akut memiliki waktu 2x24 jam untuk menurunkan tekanan bola mata. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah kelainan penglihatan permanen.

"Jika terlambat, kelainannya akan menjadi permanen. Sehingga kami mengimbau agar sebelum akut, masyarakat melakukan skrining dini glaukoma secara berkala," ujar Widya saat menjadi pembicara utama pada acara diskusi soal kesehatan mata bersama Rumah Sakit Spesialis Mata Jakarta Eye Center (JEC) di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2024).

Baca Juga

Pekan Glaukoma Sedunia diperingati setiap pekan ke-2 Maret dengan tujuan untuk meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan masyarakat maupun para pemangku kepentingan (stakeholder) di bidang kesehatan tentang pentingnya upaya preventif, kuratif hingga rehabilitatif penyakit glaukoma. Tema Pekan Glaukoma Sedunia 2024 kali ini yaitu "Uniting for a Glaucoma-Free World" dengan artian Bersatu untuk Dunia Bebas Glaukoma.

Glaukoma merupakan kondisi neuropati optik progresif yang disebabkan oleh adanya peningkatan tekanan di dalam bola mata yang dapat merusak saraf optik dan berdampak pada penurunan fungsi penglihatan, bahkan kebutaan. "Umumnya, tekanan darah di bola mata pasien saat diperiksa cukup tinggi, di atas 21 mmHg," kata Widya.

Kondisi ini dapat dialami oleh usia berapa pun, namun seiring peningkatan faktor risiko, kondisi ini banyak dialami oleh kalangan usia 40 tahun ke atas. Hal ini menjadikan glaukoma sebagai penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak.

Nyaris tanpa gejala, glaukoma berpotensi memberikan dampak yang lebih fatal dibanding katarak karena glaukoma tidak dapat direhabilitasi, namun bisa dicegah dampak fatalnya yaitu berupa kebutaan permanen.

Di negara berkembang, 90 persen kasus glaukoma tidak terdeteksi. Hal itu diperparah dengan fakta bahwa sekitar satu milyar orang di dunia belum memiliki akses terhadap kesehatan mata. Dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia pada tanggal 10-16 Maret 2024, JEC Group menyelenggarakan berbagai sosialisasi dengan tema "Gerakan Sadar Glaukoma: Guna Menyelamatkan Kualitas Hidup Kita".

Kegiatan itu ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terkait penyakit glaukoma yang tidak dapat direhabilitasi dan paya pencegahan kebutaan akibat glaukoma, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi glaukoma sedini mungkin. Diagnosa glaukoma menggunakan alat tomografi koherensi optik (OCT) yaitu teknologi pencitraan yang menggunakan interferometri koherensi rendah untuk mendapatkan gambar penampang lapangan pandang. Ketersediaan alat tersebut sudah dilengkapi JEC.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement