Sabtu 02 Mar 2024 01:27 WIB

Hukum Karma tak Ada dalam Islam, Tapi Ada ‘Hukum Dzarrah’, Apa Itu?

Dalam Islam, perilaku baik dan buruk diyakini akan mendapat balasan setimpal.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti
Seorang Muslim sedang berdoa (ilustrasi). Islam tidak mengenal hukum karma, namun Islam meyakini bahwa perbuatan manusia pasti akan menghasilkan balasan yang setimpal.
Foto: Dok. Freepik
Seorang Muslim sedang berdoa (ilustrasi). Islam tidak mengenal hukum karma, namun Islam meyakini bahwa perbuatan manusia pasti akan menghasilkan balasan yang setimpal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mungkin Anda pernah mendengar bahwa dalam Islam tidak ada istilah hukum karma. Meski begitu, Islam meyakini bahwa perbuatan manusia pasti akan menghasilkan balasan yang setimpal.

Hal ini disebutkan dalam surat al-Zalzalah ayat 7 dan 8 di mana perbuatan baik atau buruk sekecil biji dzarrah pun akan mendapat balasan setimpal. Mengutip dari situs NU Online, dalam Islam hal yaitu disebut sebagai hukum zaroh. Dzarrah merupakan bagian terkecil dari sesuatu yang dalam ilmu fisika disebut atom. Dalam surat tersebut, dijelaskan perilaku baik dan buruk akan mendapat balasan setimpal, tetapi itu bisa dibalas di dunia atau nanti di akhirat.

Baca Juga

Perilaku baik dan buruk ini bisa dilakukan manusia secara sadar atau bisa juga secara tidak disengaja. Agar menjaga sikap untuk tetap memiliki hubungan baik antarsesama manusia, Islam mengajarkan untuk mengendalikan sisi emosional. Karena segala tindakan yang mendahulukan emosional, pasti berakhir buruk.

Dikutip dari situs Suara Muhammadiyah, Islam mengajarkan bahwa manusia dilahirkan dengan karakter yang bersih tanpa dosa dan tidak bertanggung jawab atas perbuatan orang lain. Sebab setiap diri hanya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, sehingga manusia dilahirkan dalam keadaan suci.

Pada saat yang sama, ada agama tertentu yang meyakini bahwa kehidupan yang kita jalani saat ini adalah hasil dari kehidupan sebelumnya. Kita menerima karma buruk akibat perbuatan kita di kehidupan sebelumnya, meskipun kita tidak ingat bahwa kita berada di kehidupan sebelumnya atau apa yang telah kita lakukan sehingga pantas mendapatkan apa yang kita alami sekarang.

Ada juga keyakinan lain bahwa manusia pertama membawa beban dosa. Karena dosanya, kita berada dalam kebobrokan. Kita berbuat dosa karena kita mewarisi sifat berdosa itu dari orang tua pertama kita yaitu Nabi Adam AS. Bahkan ada yang melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa ada dosa warisan yang membuat kita menderita hingga hari ini.

Tetapi Islam mengajarkan bahwa tidak ada yang namanya dosa warisan atau dosa asal. Kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Kita tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan orang lain. Tidak ada kehidupan sebelumnya di dunia ini yang akan memberikan karma buruk pada kita. 

“Kita berada di dunia ini hanya sekali saja, dan apa pun yang kita lakukan di sini akan membentuk kehidupan kita di akhirat kelak. Kita hanya bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri,” kata Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Donny Syofyan.

Ini juga mengacu pada surat al-Zalzalah ayat 7 dan 8 tentang setiap perbuatan seorang manusia, balasan akan didapat seorang manusia itu sendiri. Mengenai balasan bagi orang-orang yang menzalimi orang lain, ini juga dijelaskan dalam Islam dan sering kali disebutkan bahwa doa-doa mereka terkabul. Maka dari itu, lebih baik menjaga lisan dan perilaku agar tidak sampai menyakiti hati orang lain, apalagi jika sampai menzalimi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement