Senin 26 Feb 2024 16:31 WIB

Ibu dan Janin Bisa Mengenali Faktor Pemicu Penyakit Jantung Bawaan

Merokok selama kehamilan dapat memicu penyakit jantung bawaan pada janin.

Membedah pemicu penyakit jantung bawaan dan langkah mencegahnya.
Foto: Republika.co.id
Membedah pemicu penyakit jantung bawaan dan langkah mencegahnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit jantung bawaan (congenital heart disease) merupakan kelainan jantung yang dimiliki oleh seseorang sejak lahir. Dilansir dari buku A Practical Guide to Fetal Echodardiography edisi kedua pada 2010 karya Alfred Abuhamad dan Chaoui, dari 1.000 kelahiran hidup, rata-rata terdapat 50 kasus penyakit jantung bawaan.

Langkah yang dapat dilakukan agar tidak terjadi PJB dengan mengenali faktor risikonya, baik ibu maupun janin. Menurut dr Febtusia Puspitasari, Sp.JP, pola makan, kondisi kesehatan atau penggunaan obat ibu selama kehamilan, serta merokok selama kehamilan dapat memicu penyakit jantung bawaan pada janin.

"Kemudian untuk faktor resiko pada janin antara lain kelainan gen atau kromosom, kelainan irama jantung, penebalan tengkuk serta plasenta pada kehamilan satu telur," ucap Febtusia di acara Congenital Heart Disease Awareness Week yang diadakan Rumah Sakit Premier Bintaro (RSPB), Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dikutip dalam siaran pers Senin (26/2/2024).

Bagi ibu hamil yang mengkonsumsi asam folat 0,8 miligram (mg) dapat membantu mencegah penyakit jantung bawaan. Selain itu, bagi pasien disarankan melakukan skrining secara berkala seperti skrining kelainan bawaan pada trimester satu.

 

Kemudian, di trimester dua dilakukan pemeriksaan genetic ultrasound serta feto echocardiography. Apabila ditemukan kecurigaan penyakit jantung bawaan, kata Febtusia, dokter spesialis kandungan akan bekerja sama dengan dokter spesialis jantung anak membahas kondisi jantung janin dan juga persiapan kelahiran bayi.

"Pemeriksaan fetal echocardiography kembali akan dilakukan, kali ini oleh dokter spesialis jantung anak guna menegakkan diagnosis dan menentukan penanganan bayi setelah lahir, di mana melibatkan beberapa dokter spesialis seperti dokter spesialis anak neotatologi dan dokter spesialis bedah jantung anak," ujar Febtusia.

CEO RSPB, Dr Martha ML Siahaan menjelaskan, penyakit jantung bawaan ada yang sembuh dengan sendirinya. Namun, ada juga pasien yang harus menjalani tindakan intervensi, baik terapi bedah seperti operasi paliatif pulmonary artery banding pada kasus VSD besar, operasi ligase PDA, dan lain-lain. Ada pula harus melalui terapi nonbedah, seperti balloon atrial septostomy (BAS) pada kasus TGA, pemasangan koil di kasus VSD, ASD, PDA, dan tindakan lainnya.

"Jumlah kasus jantung bawaan di Indonesia tidak berbanding seimbang dengan banyaknya fasilitas layanan kesehatan yang mendukung. Untuk itu, RS Premier Bintaro akan membuka layanan unggulan baru untuk penyakit seputar jantung, yang saat ini masih dalam proses penggarapan," kata Martha.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement