Rabu 05 Apr 2023 11:25 WIB

Kebiasaan tak Sehat yang Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung Koroner

Sampai saat ini, penyakit jantung masih menjadi urutan tertinggi penyebab kematian.

Seseorang memiliki penyakit jantung  koroner (ilustrasi). Beberapa kebiasaan tidak sehat dapat meningkatkan seseorang terkena penyakit jantung koroner.
Foto: www.freepik.com.
Seseorang memiliki penyakit jantung koroner (ilustrasi). Beberapa kebiasaan tidak sehat dapat meningkatkan seseorang terkena penyakit jantung koroner.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr Utojo Lubiantori mengatakan, pola hidup tidak sehat yang dijalani sejak muda dan beberapa faktor risiko lainnya dapat memperparah sumbatan atau plak arterisklerosis pada pembuluh darah. Semua itu merupakan penyebab penyakit jantung koroner (PJK).

"Jadi sebenarnya plak itu bagian dari dinding pembuluh darah, dia tumbuh prosesnya dipercepat dengan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, merokok, kolesterol tinggi, kegemukan, genetik, faktor usia, dan lebih banyak jenis kelamin pria," ujarnya dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Selasa malam (4/4/2023).

Baca Juga

Dokter yang menamatkan spesialisasinya di Universitas Indonesia ini mengatakan, laki-laki dengan pola hidup tidak sehat seperti merokok sejak muda serta adanya faktor risiko, dapat meningkatkan risiko PJK dan penyumbatan pada pembuluh darah dibandingkan perempuan. Hormon esterogen pada perempuan membuat kelompok jenis kelamin ini memiliki risiko yang bisa dibilang sangat kecil.

Namun, angka kejadian PJK pada perempuan bisa sama dengan laki-laki pada saat ia telah memasuki masa manepouse. Untuk itu, Utojo mengatakan perlunya dilakukan check up pada kelompok yang memiliki faktor risiko dan kebiasaan merokok dengan perekaman elektrokardiogram (EKG), treadmill, USG jantung, CT Scan jantung, nuklir jantung dan kateterisasi.

"Lakukan check up dengan enam item, EKG rekaman jantung, treadmill, USG jantung itu yang direkam irama jantung dan akurasinya dibawah 80 persen, CT scan jantung, nuklir jantung dan yang paling tepat kateterisasi Gold standard-nya karena melihat langsung," kata dokter lulusan Leiden University Medical Center, Belanda ini.

Sampai saat ini, penyakit jantung masih menjadi urutan tertinggi penyebab kematian. Ada beberapa macam penyakit jantung yaitu gangguan irama jantung yang biasanya diderita atlet, penyakit jantung bawaan, hipertensi dan kelainan katup.

Sekitar 70 persen penyakit jantung didominasi oleh penyakit jantung koroner yang merupakan penyakit dasar seperti serangan jantung atau sudden death dan angina pektoris atau sakit dada. Gejala penyakit jantung koroner bisa dirasakan seperti sesaj nafas, terasa penuh, tertekan dan panas.

Lokasinya tidak selalu di dada, rasa sakit bisa muncul di ulu hati, leher, rahang dan punggung. Gejala ini akan muncul ketika sedang beraktivitas atau kelelahan. "Kalau cepat capek berati dia sudah penurunan fungsi fisik. Ketika serangan susah dideteksi, tapi setiap timbul saat aktivitas dan selalu berulang itu termasuk angina pektoris (sakit dada)," ujar Utojo.

Dia mengatakan untuk menurunkan risiko penyakit jantung koroner dan sumbatan pembuluh darah, perlu diperbaiki dari sisi penyakit penyertanya seperti diabetes, obesitas, kolesterol dan hipertensi. Lakukan check up jika ada peluang untuk komplikasi jantung yang lebih tinggi seperti pada pria perokok.

"Perokok ada diabetik mesti cek karena peluang untuk komplikasi jantung lebih tinggi, laki-laki dengan pola hidup tidak sehat lebih tinggi risikonya," ujarnya. Jika terjadi sumbatan pada pembuluh darah, penanganan yang tepat adalah dengan tindakan balonisasi dan pemasangan stent menggunakan teknologi IntraVascular UltraSound (IVUS) dan Optical Cohorence Tomography (OCT).

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement