Ahad 18 Feb 2024 09:18 WIB

Anemia Anak Sering tanpa Gejala, Waspadai karena Bisa Hambat Kecerdasan

Anemia bisa menghambat tumbuh kembang hingga menurunnya kecerdasan anak.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
Anak mengalami anemia (ilustrasi). Anemia pada anak dapat mengakibatkan terhambatnya tumbuh kembang hingga menurunnya kecerdasan anak.
Foto: www.piqsels.com
Anak mengalami anemia (ilustrasi). Anemia pada anak dapat mengakibatkan terhambatnya tumbuh kembang hingga menurunnya kecerdasan anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para orang tua diimbau memberikan perhatian serius terhadap permasalahan anemia pada anak. Kondisi kekurangan sel darah merah dalam tubuh itu dapat mengakibatkan terhambatnya tumbuh kembang hingga menurunnya kecerdasan anak.

Anemia merupakan masalah kesehatan serius yang dihadapi masyarakat dunia, terutama pada anak-anak. Indonesia tercatat menduduki posisi ke-4 sebagai negara dengan prevalensi anemia tertinggi di Asia Tenggara, dengan satu dari tiga anak berusia di bawah lima tahun di Indonesia mengalami anemia. 

Baca Juga

Salah satu faktor penyebab masih tingginya kasus anemia di Indonesia disebabkan karena sering kali anemia terjadi tanpa gejala. Selain itu, sebagian orang tua kurang memahami pentingnya pencegahan anemia sejak dini, sehingga tidak menyadari risiko atau dampak negatif jika si kecil menderita anemia.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Ulul Albab SpOG mengatakan bahwa perkembangan otak anak sangat tergantung pada asupan nutrisi yang dikonsumsi. Salah satu nutrisi penting yang harus terpenuhi pada lima tahun pertama kehidupan anak adalah zat besi. 

 

"Sebab, jika anak kekurangan asupan harian zat besi, maka bisa menyebabkan anemia defisiensi besi yang dapat menimbulkan dampak negatif permanen, terutama pada perkembangan kognitif atau otak anak," ujar Ulul, dikutip dari siaran pers yang diterbitkan Sarihusada.

Untuk pencegahan anemia defisiensi besi pada anak di bawah lima tahun, dapat dilakukan dengan memberikan asupan gizi seimbang yang banyak bersumber dari protein hewani yang kaya zat besi. Selain itu, untuk memaksimalkan penyerapan zat besi dalam tubuh hingga dua kali lipat, juga dibutuhkan kombinasi antara zat besi dan citamin C. 

BACA JUGA: Mengapa Ada Orang Selalu Berkeringat Saat Makan?

Menurut Ulul, dalam memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak, bisa juga dipertimbangkan untuk memberikan sumber nutrisi yang difortifikasi. Contohnya, seperti susu pertumbuhan yang tinggi zat besi dan dikombinasikan dengan vitamin C.

"Sebab, susu pertumbuhan diketahui sebagai minuman protein hewani yang padat gizi dan diperlukan terutama di masa tumbuh kembang. Sehingga, susu pertumbuhan yang terfortifikasi tinggi zat besi yang dikombinasikan dengan vitamin C juga dapat bermanfaat untuk pencegahan anemia," ujar Ulul.

Corporate Communications Director Sarihusada, Arif Mujahidin, menyampaikan bahwa Sarihusada ingin terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan dan penanganan anemia yang tepat pada anak. Salah satunya dengan menghadirkan platform digital Pusat Pencegahan Anemia pada Anak yang dapat diakses melalui website genmaju.info/AnakSehatGenerasiMaju. 

"Selain agar mempermudah akses dan memperluas jangkauan edukasi, platform kanal digital dipilih karena kami melihat penetrasi penggunaan internet di Indonesia semakin pesat dari tahun ke tahun," kata dia.

Arif mengatakan, sebuah survei menunjukkan bahwa konten mengenai kesehatan paling banyak dikunjungi masyarakat Indonesia di tahun 2023,  termasuk di dalamnya tentang kesehatan anak. Di platform Pusat Pencegahan Anemia pada Anak, nantinya akan tersedia berbagai fitur edukasi. Beberapa di antaranya adalah skrining risiko anemia pada anak, video edukasi dampak anemia dari pakar kesehatan, resep praktis makanan kaya zat besi untuk pencegahan anemia, serta artikel-artikel terkait pemenuhan gizi seimbang untuk mencegah anemia. 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement