Rabu 20 Dec 2023 06:44 WIB

Nyamuk Wolbachia Dituduh Bawa ‘Virus’ LGBT, Kemenkes Tegas Bantah

Sempat beredar kabar nyamuk ber-wolbachia mengandung ‘virus’ LGBT.

Rep: Antara/ Red: Qommarria Rostanti
Nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia. Kemenkes membantah kabar yang menyebut nyamuk wolbachia membawa virus LGBT.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia. Kemenkes membantah kabar yang menyebut nyamuk wolbachia membawa virus LGBT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membantah kabar yang menyebut bahwa nyamuk dengan wolbachia membawa "virus" LGBT. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi tegas menyebut hal itu tidak benar atau hoaks.

"Ada disinformasi bahwa nyamuk akan masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan LGBT, kalau itu benar, tentu nyamuk ber-wolbachia harus masuk ke dalam tubuh manusia, padahal secara referensi itu tidak bisa terjadi, karena wolbachia hanya hidup di tubuh serangga, kalau keluar dari sel dia bisa mati," katanya dalam bincang akhir tahun bersama Kemenkes di Jakarta, Selasa (19/12/2023).

Baca Juga

Imran menyebutkan, teknologi wolbachia ini adalah pelengkap program pengendalian dengue yang sudah ada, seperti pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M plus, gerakan satu rumah satu jumantik, atau kelompok kerja operasional (pokjanal) khusus demam berdarah. Adapun fokus penyebaran nyamuk dengan wolbachia ini dilakukan fokus pada enam kota yakni Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, Kupang, dan Denpasar.

Imran mengatakan, nyamuk dengan wolbachia dapat menurunkan kebutuhan penyemprotan atau fogging hingga 83 persen. "Tahun 2023 ini ada daerah yang menganggarkan 125 kali penyemprotan, tetapi sampai November hanya digunakan sembilan kali, jadi alokasi anggarannya bisa dilakukan untuk yang lain," ujar dia.

Ia menegaskan, sudah dilakukan studi kepada masyarakat yang di sekitarnya sudah mendapatkan nyamuk wolbachia. Hasil studi disampaikan oleh Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dr. Riris Andono Ahmad.

"Di Sleman dan Bantul, Yogyakarta, kami ambil sampel darah, karena kalau ada virus masuk ke dalam tubuh, kan tubuh otomatis membentuk antibodi. Dari sekian banyak sampel darah warga yang kami ambil, tidak ada satu pun yang ditemukan ada antibodi melawan wolbachia di dalam tubuhnya," ujar Andono.

 

Andono mengemukakan, penerapan nyamuk ber-Wolbachia ini lebih tepat dilakukan di kota-kota padat penduduk, karena nyamuk juga memiliki batas terbang.

 

Ia juga memaparkan, berdasarkan hasil studi yang dilihat dari jurnal medis Inggris, efektifitas penerapan nyamuk ber-Wolbachia di suatu komunitas masyarakat dapat mengurangi insiden kasus demam berdarah dengue (DBD) sebesar 77 persen, sekaligus mengurangi kapasitas rawat inap di rumah sakit akibat DBD sebesar 86 persen.

 

"Bahkan di Niteroi, Brasil, juga sudah berhasil menurunkan kasus chikungunya secara bermakna sebesar 56 persen, juga mengurangi risiko akibat virus zika sebesar 37 persen," ungkapnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement