Kamis 23 Nov 2023 15:37 WIB

Sejumlah Negara Dukung Israel, Perlukah Boikot Wisata ke Sana?

Beberapa negara menyatakan dukungannya secara terbuka untuk Israel.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti
Mural boikot Israel di kawasan Gondomanan, Yogyakarta. sejumlah negara di dunia juga telah menyatakan dukungannya secara terbuka untuk Israel. Perlukah boikot wisata ke negara-negara itu?
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Mural boikot Israel di kawasan Gondomanan, Yogyakarta. sejumlah negara di dunia juga telah menyatakan dukungannya secara terbuka untuk Israel. Perlukah boikot wisata ke negara-negara itu?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keprihatinan terhadap korban genosida di Gaza, Palestina, mendorong masyarakat dunia melakukan boikot terhadap produk dari perusahaan-perusahaan yang mendukung keuangan Israel. Kini, sejumlah negara di dunia juga telah menyatakan dukungannya secara terbuka untuk Israel. Perlukah boikot wisata ke negara-negara pro Israel juga dilakukan?

Belum lama ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina. Salah satu imbauan yang disampaikan melalui fatwa ini adalah menghindari transaksi terhadap produk yang terafiliasi dengan Israel.

Baca Juga

Bila mengacu pada fatwa tersebut, Pendiri Halal Corner Aisha Maharani menilai kunjungan ke negara-negara pendukung Israel memang sebaiknya tidak dilakukan bila tak ada kepentingan yang mendesak.

"Kalau bukan untuk kepentingan yang urgent memang baiknya bisa kita lakukan aksi boikot traveling atau wisata ke negara yang support Israel," tutur Aisha kepada Republika.co.id pada Rabu (22/11/23).

 

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim. Menurut Prof Sudarnoto, fatwa yang baru saja diterbitkan oleh MUI mengimbau agar Muslim tidak memberikan dukungan kepada pihak yang mendukung Israel.

Menurut Prof Sudarnoto, bentuk dukungan yang diberikan berbagai pihak kepada Israel bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah produk yang sebagian hasil jual-belinya disalurkan untuk membantu Israel.

"Termasuk pariwisata, kalau pariwisata itu nyata-nyata memberikan manfaat bagi Israel. Sah saja tidak melakukan kunjungan ke negara-negara yang jelas-jelas mendukung Israel. Saya berpendapat begitu," terang Prof Sudarnoto kepada Republika.co.id.

Berdasarkan pemantauan Republika.co.id, saat ini ada sejumlah negara yang secara tegas menyatakan dukungan untuk Israel. Salah satu di antaranya adalah Amerika Serikat, negara yang tampaknya cukup diminati oleh traveler Muslim.

Seperti dilansir Skift, jumlah wisatawan Muslim yang berkunjung ke Amerika Serikat tidak jauh berbeda dengan jumlah wisatawan asal Cina yang juga berkunjung ke negara tersebut. Padahal, Cina merupakan outbound travel market terbesar di dunia. Per 2016 contohnya, jumlah wisatawan Muslim yang berkunjung ke Amerika Serikat adalah sekitar 2,3 juta, sedangkan wisatawan Cina sekitar 3 juta.

Dukungan warga Thailand kepada Israel juga belum lama ini menjadi sorotan. Warga negara Thailand di Israel disebut-sebut bergabung bersama tentara zionis Israel dan ikut mengepung Gaza. Alasannya, ada pekerja migran Thailand yang ikut menjadi korban dalam serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu dan beberapa masih menjadi sandra. Menurut KNE Publishing, ada sekitar 3,6 juta wisatawan Muslim yang berkunjung ke Thailand per tahun.

Mengapa boikot penting?

Prof Sudarnoto menjelaskan, boikot merupakan bagian dari public pressure atau bentuk tekanan masyarakat. Boikot dilakukan dengan harapan dapat mempengaruhi kekuatan ekonomi Israel. Bila kekuatan ekonomi mereka menurun, diharapkan Israel akan kesulitan membeli senjata untuk melakukan serangan kepada warga Palestina.

Namun, Prof Sudarnoto juga mengingatkan bahwa tindakan boikot dalam banyak hal, termasuk wisata, merupakan sebuah pilihan. Setiap orang memiliki hak untuk memilih, sehingga gerakan boikot tidak boleh memaksa.

"Tidak boleh memaksa boikot. Itu hak. Salah satu cara yang dilakukan masyarakat untuk mengekspresikan atau membuktikan keberpihakan terhadap perjuangan Palestina," ujar Prof Sudarnoto.

Selain boikot, ada sejumlah upaya lain yang bisa dilakukan oleh negara atau masyarakat untuk membantu perjuangan Palestina. Sebagian di antaranya adalah melalui diplomasi yang dilakukan oleh negara, menggelar aksi demo yang beradab atas dasar kemanusiaan, dan dengan perang melawan penjajah tanpa menyalahi hukum internasional.

"(Perang) sudah dilakukan, terutama oleh Hamas dan faksi-faksi lain, kekuatan-kekuatan lain, yang berusaha melawan imperialisme Israel yang didukung oleh Amerika Serikat," tambah Prof Sudarnoto.

Contoh upaya lain yang dapat dilakukan untuk membantu perjuangan Palestina adalah dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan. Penting juga, lanjut Prof Sudarnoto, bagi organisasi lintas agama dan ormas-ormas untuk ikut bersuara lantang mengecam genosida yang sedang terjadi di Gaza, Palestina.

Tentu, yang tak kalah penting adalah membantu perjuangan Palestina melalui doa. Bagi umat Islam, Prof Sudarnoto mengatakan salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca adalah doa qunut. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement