Rabu 01 Nov 2023 17:30 WIB

‘Gadis Kretek’ Tayang Mulai 2 November, Bawa Spirit Perempuan Masa Lampau ke Masa Kini

Serial ‘Gadis Kretek’ mulai tayang di Netflix 2 November 2023.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti
Para pemain dan tim produksi serial original Netflix Indonesia pertama “Gadis Kretek”, dalam konferensi pers di The Hermitage Jakarta, Rabu (1/11/2023).
Foto: Dok. Republika/Rahma Sulistya
Para pemain dan tim produksi serial original Netflix Indonesia pertama “Gadis Kretek”, dalam konferensi pers di The Hermitage Jakarta, Rabu (1/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Serial orisinal Netflix Indonesia pertama "Gadis Kretek" bisa disaksikan mulai Kamis (2/11/2023). Melalui kisah tiga perempuan dari masa ke masa, serial ini mengirim pesan spirit perempuan di masa lampau untuk perempuan di masa kini.

“Satu hal yang saya ingin lihat adalah ada spirit dari karakter Jeng Yah, ahead of time tapi juga banyak perjalanan yang terjadi padanya, ada tragedi, banyak kejadian di tahun itu, yang memang perempuan menjadi korbannya,” kata sutradara Kamila Andini dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/11/2023).

Kamila ingin menyampaikan bahwa cerita Dasiyah bukan hanya sekadar tragedi, melainkan ada spirit yang melekat dalam hidupnya pada masa itu. Dasiyah merupakan sosok perempuan visioner yang gemar meracik saus rokok kretek.

“Kita berada di zaman yang sudah sangat berbeda di mana semua serbamudah sekarang, berbeda dengan kehidupan Dasiyah saat itu, dan bagaimana meneruskan spirit itu ke masa sekarang,” kata Kamila.

 

Dia juga mengatakan, cerita ini sesungguhnya sudah direncanakan lama oleh sutradara Ifa Isfansyah dan sang penulis buku Ratih Kumala, sejak 10 tahun yang lalu. Kamila sendiri sudah membaca buku ini pada saat diterbitkan pertama kali di 2012.

Pada saat membaca cerita Gadis Kretek, Kamila mengaku sangat terpukau. “Salah satunya dengan karakter Jeng Yah, saya melihat seperti ada Kartini di industri kretek. Saya membaca sangat cepat waktu itu, novel yang sangat luar biasa,” kata Kamila.

Ifa juga menceritakan bagaimana proses menerjemahkan dari buku menjadi visual. Dia mengatakan, lewat tulisan akan lebih mudah untuk bermain dengan waktu, tetapi ketika diwujudkan lewat visual, banyak detail dan riset yang harus dilakukan.

“Begitu ke visual, bagaimana membuat dua masa ini tetap relate. Dari dua karakter ini (Dasiyah diperankan oleh Dian Sastrowardoyo dan Arum diperankan oleh Putri Marino) memang kita gunakan sebagai bicara dengan zaman,” kata Ifa.

Cerita ini akan memunculkan karakter Dasiyah yang hidup pada 1920 dan karakter Arum yang hidup pada 2001. “Saya ingin mereka menjadi dua perempuan yang berbeda,” ucap Kamila lagi.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement