Ahad 08 Oct 2023 20:30 WIB

Sering Menitipkan Anak pada Kakek Neneknya, Coba Simak Ini Dulu

Orang tua disarankan tetap menjaga kesehatan mentalnya karena berdampak pada anak.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Natalia Endah Hapsari
Kakek, nenek, dan cucu/ilustrasi
Foto: msndegree.com
Kakek, nenek, dan cucu/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cukup banyak orang tua muda yang karena berbagai alasan menitipkan anak yang masih balita ke ayah ibu mereka, alias kakek dan nenek dari anak. Sebuah penelitian berusaha mengungkap dampak dari pengasuhan anak oleh dua generasi di atasnya.

Dikutip dari laman Science Daily, Ahad (8/10/2023), studi digagas oleh tim dari Sivas Cumhuriyet University dan Cappadocia University di Turki, serta University of Exeter di Inggris. Para peneliti meninjau informasi dari 1.495 ibu serta anak-anak mereka.  

Baca Juga

Data yang digunakan berasal dari Millennium Cohort Study. Sebanyak 39,3 persen anak menghabiskan antara satu hingga 10 jam bersama kakek-nenek mereka dalam sehari. Sementara, 33,7 persen anak bersama kakek-neneknya antara 11 hingga 20 jam sehari.

Ada 27 persen anak dari keseluruhan data yang ditinjau, menghabiskan waktu di atas 21 jam bersama kakek-neneknya. Lantas, digunakan Skala Skrining Kessler untuk Tekanan Psikologis, guna menilai kesejahteraan psikologis ibu yang mengikuti penelitian.

 

Skala Hubungan Orang Tua Anak pun dipakai dalam studi tersebut. Khususnya, untuk mengukur persepsi ibu terhadap hubungan ibu dan anak. Kuesioner Kekuatan dan Kesulitan digunakan untuk menilai tingkat kesulitan emosional dan perilaku anak.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara kesejahteraan psikologis ibu dan jumlah dukungan yang diberikan kepada keluarga terutama yang bergantung pada pengaturan perawatan anak dan kakek neneknya, ungkap salah satu peneliti, Angeliki Kallitsoglou.

Konflik ibu-anak atau berkurangnya kedekatan ibu-anak pun masih berpotensi terjadi ketika anak beranjak besar. Menurut para peneliti, jika ibu memiliki masalah mental yang buruk, itu bisa membuat anak memiliki masalah emosional, masalah perilaku, dan masalah teman sebaya yang lebih tinggi pada usia tujuh tahun. 

Kedekatan ibu-anak berhubungan langsung dengan kesulitan sosial dan emosional anak ketika anak nantinya berusia tujuh tahun. Lebih banyak konflik ibu-anak pada usia tiga tahun pun dikaitkan dengan lebih sedikit perilaku prososial, kurangnya perhatian/hiperaktif, masalah emosional, masalah teman sebaya, juga masalah perilaku.

Karena itu, peneliti merekomendasikan agar para ibu tetap memperhatikan kesehatan mentalnya dengan beragam cara. Selain itu, para peneliti menegaskan bahwa mereka tidak menganggap sepele dukungan kakek-nenek dalam bentuk pengasuhan anak.

Sebab, itu mungkin memiliki implikasi berbeda terhadap kesehatan mental ibu yang punya keterbatasan. Misalnya, ibu tunggal atau ibu yang bekerja penuh waktu.  

"Jadi, kami tidak bisa menutup kemungkinan bantuan kakek dan nenek untuk ibu yang memiliki karakteristik berbeda dengan sampel kami, yang tentunya akan memberikan dampak yang berbeda," ujar Kallitsoglou.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement