Kamis 05 Oct 2023 09:26 WIB

Cuaca Panas Masih Berlangsung, Waspadai Ancaman Dehidrasi Hingga ISPA

Ada sejumlah penyakit yang berpotensi terjadi saat cuaca panas.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Qommarria Rostanti
Seorang pria mengalami dehidrasi (ilustrasi). Masyarakat diimbau menjaga kesehatan saat musim kemarau. Pasalnya ada beberapa penyakit yang berpotensi terjadi pada musim ini.
Foto: Republika
Seorang pria mengalami dehidrasi (ilustrasi). Masyarakat diimbau menjaga kesehatan saat musim kemarau. Pasalnya ada beberapa penyakit yang berpotensi terjadi pada musim ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cuaca panas diprediksi oleh BMKG masih terus berlangsung sepanjang Oktober 2023. Pakar kesehatan Prof Ari Fahrial Syam mengimbau agar masyarakat menjaga kesehatannya pada musim kemarau ini. Pasalnya ada sejumlah penyakit yang mungkin terjadi saat cuaca panas.

Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini,  cuaca panas menyebabkan suhu udara menjadi meningkat. Suhu udara yang meningkat berpotensi membuat masyarakat akan mudah menjadi dehidrasi, terutama pada mereka-mereka yang berada di jalanan. 

Baca Juga

Di satu sisi, kata Prof Ari, udara yang panas ini juga akan meningkatkan jumlah debu yang meningkat. Tentu ini juga akan berpengaruh pada orang-orang yang memang mempunyai alergi pada debu.

"Secara keseluruhan tentu yang akan terganggu adalah pernapasan karena debu yang lebih tinggi dan kemudian di satu sisi, masyarakat mudah jatuh dalam dehidrasi, tenggorokan menjadi kering iritasi, sehingga memang bisa terjadi peningkatan infeksi saluran pernapasan yang pada kondisi-kondisi dimana cuaca panas terjadi," ujar spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo ini kepada Republika.co.id, Kamis (5/10/2023).

Oleh karena itu, menurutnya, maka harus diantisipasi oleh masyarakat. "Mereka yang memang pekerjaannya ada di luar, harus sering mengonsumsi air untuk mencegah jangan sampai terjadi dehidrasi," ujarnya.

Dehidrasi dan radang tenggorokan merupakan dua penyakit yang dapat menyerang siapa pun, terutama ketika cuaca sedang tidak menentu. Kedua penyakit yang kerap kali dianggap sama ini ternyata berbeda penyebabnya.

“Dehidrasi itu kondisi tubuh kita kekurangan cairan. Dengan kata lain, cairan tubuh kita yang keluar lebih banyak daripada asupan cairan yang masuk," ujar Medical Officer PT Kalbe Farma Tbk, dr Christian I Elim dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan seperti orang beraktivitas di cuaca panas, keringat keluar terus, melalui urine juga. Jadi lupa minum air.

Sementara itu, radang tenggorokan merupakan keadaan tenggorokan yang terinfeksi oleh virus atau bakteri. Gejala keduanya pun berbeda. Gejala dehidrasi yakni badan lemas, muncul rasa haus, dan bibir kering. Gejala radang tenggorokan adalah nyeri saat menelan, terasa agak gatal atau kering di tenggorokan.

Sayangnya, dehidrasi sering kali tidak disadari. "Namun, dehidrasi berat berisiko infeksi saluran kemih hingga gagal ginjal, apabila dehidrasi tidak segera ditangani," ujarnya. 

Apabila sudah terkena dehidrasi, hindari mengonsumsi minuman dan makanan yang banyak mengandung garam dapat mengikat air, karena banyak mengeluarkan air. Jika mengalami radang tenggorokan, diimbau tidak mengonsumsi makanan pedas yang membuat asam lambung meningkat dan memperparah kondisi.

Selain itu, baik dehidrasi maupun radang tenggorokan, sistem imun tubuh harus ditingkatkan. Kemudian, istirahat dan tidur yang cukup, makan makanan dan minuman yang bergizi, serta membawa tumbler untuk persediaan air minum.

“Kalau radang tenggorokan bisa sembuh sendiri sekitar tujuh hari, tetapi jika tidak sembuh maka sebaiknya segera dikonsultasikan dengan dokter. Kalau dehidrasi, bisa dengan mengonsumsi air yang cukup supaya tenggorokan lebih lega,” ujar dr Chris.

Di sisi lain, untuk pencegahan dehidrasi dan radang tenggorokan diimbau untuk mengonsumsi air mineral minimal 2 liter setiap harinya. Perlu juga menghindari faktor pencetus seperti istirahat yang cukup, rajin berolahraga, makan makanan yang bernutrisi, tidak berbagi makanan dengan orang yang sedang tertular. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement