Selasa 01 Aug 2023 21:26 WIB

Pakar Pulmonologi: Perlu Analisis Genomik dan Epidemiologi Soal Covid Paling Bermutasi

Terdapat tiga skenario dari hasil mutasi SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Virus Covid-19 (ilustrasi)
Foto: www.wikimedia.org
Virus Covid-19 (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar pulmonologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan, temuan Covid-19 paling bermutasi di Jakarta memerlukan analisis genomik dan epidemiologi untuk mengantisipasi potensi dampak terburuk.

"Covid-19 memang masih akan selalu bermutasi dan akan timbul varian-barian baru dari waktu ke waktu," kata Tjandra Yoga Aditama dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (1/8/2023). 

Baca Juga

Ia mengatakan, terdapat tiga skenario dari hasil mutasi SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, yakni bersifat standar seperti varian pada umumnya, varian yang lebih lemah dari sebelumnya dan tidak memerlukan pengulangan vaksin baru, dan yang terburuk di mana varian baru menimbulkan gejala lebih berat dari varian sebelumnya.

"Laporan sampel dari Indonesia yang disebut memiliki banyak sekali mutasi dan lebih menular perlu dianalisis lebih dalam, baik secara genomik maupun epidemiologi lapangan," katanya.

Analisis secara genomik, kata Tjandra, dilakukan dengan cara menganalisis rantai molekuler virus, baik pada kasus itu maupun pada kasus lain dari Indonesia yang dikirim ke organisasi pengumpulan data virus influenza, GISAID.

Selain itu juga perlu dicek di lapangan gambaran klinik tentang kasus tersebut serta potensi penularan ke orang sekitarnya, kata Tjandra menambahkan.

"Dengan dua analisis tersebut akan dapat lebih tepat menentukan situasi mana yang sebenarnya terjadi, dan kalau memang terjadi virus yang mudah bermutasi maka, apakah hanya pada satu kasus itu atau ada di kasus-kasus lainnya juga," ujarnya.

Tjandra mengatakan, Indonesia harus tetap menjaga surveilan genomik dengan angka yang cukup tinggi, karena secara umum akan tetap ada kemungkinan varian baru Covid-19 dengan tiga skenario dampak mutasi.

Menurut Tjandra, data genomik Covid-19 Indonesia yang dimasukkan ke GISAID belumlah optimal jika dibandingkan negara lain.

Selain surveilan genomik, kata Tjandra, analisa kemungkinan penularan yang terjadi adalah praktik yang umum untuk penyakit menular langsung, ada atau tidak adanya pandemi.

"Maka sama seperti penyakit menular yang lain, maka kalau ada kasus positif tentu tetap perlu analisa tentang kemungkinan penularan yang sudah terjadi," katanya.

Ahli virologi di Universitas Warwick Prof Lawrence Young menemukan 113 mutasi dari varian Delta dari seorang pasien Covid-19 di Jakarta.

"Virus ini terus mengejutkan kami dan berpuas diri itu berbahaya. Ini menyoroti masalah hidup dengan virus," kata Young kepada DailyMail (30/7/2023).

Diketahui virus dari pasien tersebut dikirim ke data penelitian genetik global pada awal Juli dan diyakini berasal dari kasus infeksi kronis.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement