Senin 31 Jul 2023 21:22 WIB

Studi: Rutin Plank Bantu Kendalikan Tekanan Darah

Latihan isometrik dapat membantu mengelola tekanan darah.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Perempuan melakukan plank (ilustrasi). Latihan isometrik atau latihan kekuatan seperti plank dan wall squat dianggap efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik.
Foto: www.freepik.com
Perempuan melakukan plank (ilustrasi). Latihan isometrik atau latihan kekuatan seperti plank dan wall squat dianggap efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah masalah kesehatan global yang memengaruhi lebih dari 40 persen orang dewasa di seluruh dunia. Hipertensi dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular yang parah seperti strok, gagal jantung, dan infark miokard.

Selain itu, hipertensi dapat menyebabkan kerusakan fungsional dan struktural yang signifikan pada otak, yang menyebabkan gangguan kognitif dan demensia. Oleh karena itu, strategi yang efektif untuk mengelola hipertensi sangat penting.

Baca Juga

Meskipun latihan fisik seperti jogging, lompat tali, dan berenang telah dikenal sebagai cara efisien untuk mengelola hipertensi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa latihan isometrik juga dapat membantu mengelola tekanan darah. Menurut studi yang diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine, latihan isometrik atau latihan kekuatan yang mengkontraksikan otot secara statis tanpa menggerakan sendi tulang, sangat efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik. 

Contoh latihan isometrik termasuk wall squat dan plank. Wall squat yakni latihan yang dilakukan dengan menyandarkan punggung ke tembok sambil menekuk lutut seakan-akan sedang duduk, lalu menahannya selama beberapa saat; adapun plank gerakannya dilakukan dengan mempertahankan posisi yang mirip dengan tolak angkat dalam jangka waktu tertentu. Latihan-latihan ini meningkatkan ketahanan fisik dan postur tubuh dengan memperkuat dan menstabilkan otot.

"Temuan ini memberikan kerangka kerja berbasis data yang komprehensif untuk mendukung pengembangan rekomendasi pedoman olahraga baru untuk pencegahan dan pengobatan hipertensi arteri," kata dr Jamie O'Driscoll, Reader in Cardiovascular Physiology, School of Psychology and Life Sciences, yang juga salah satu penulis studi tersebut.

American College of Sports Medicine (ACSM) merekomendasikan agar individu dengan hipertensi melakukan olahraga aerobik intensitas sedang 5-7 hari per pekan. Lalu ditambah dengan olahraga ketahanan 2-3 hari per pekan dan olahraga fleksibilitas setidaknya 2-3 hari per pekan.

Orang dewasa harus menargetkan 150 hingga 300 menit per pekan dengan intensitas sedang, atau 75 hingga 150 menit per pekan untuk latihan aerobik dengan intensitas berat. Selain itu, mereka harus melakukan aktivitas penguatan otot setidaknya dua hari per pekan.

Olahraga teratur memperkuat jantung, memungkinkannya memompa lebih banyak darah dengan lebih sedikit usaha, sehingga mengurangi tekanan pada arteri dan menurunkan tekanan darah. Berbagai jenis olahraga memiliki efek yang berbeda-beda pada tekanan darah. Misalnya, tekanan darah sistolik meningkat secara linier dengan intensitas latihan, sementara tekanan diastolik tetap stabil atau sedikit menurun pada tingkat latihan yang lebih tinggi.

"Sangat penting bagi para profesional kesehatan untuk mendorong pasien dengan hipertensi untuk mematuhi program olahraga," kata O'Driscoll seperti dilansir laman India Today, Senin (31/7/2023).

Latihan fisik, khususnya latihan isometrik, memainkan peran penting dalam mencegah dan mengobati hipertensi. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya mengapa latihan isometrik mungkin lebih efektif daripada jenis latihan lainnya dalam menurunkan tekanan darah.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement