Selasa 11 Jul 2023 16:00 WIB

Tidak Rajin Sikat Gigi, Risiko Demensia Lebih Tinggi

Studi mengungkap kaitan antara kesehatan gigi dengan demensia.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda
Demensia (ilustrasi). Penyakit gusi dan kehilangan gigi ada kaitannya dengan berkurangnya materi abu-abu dan menurunnya kesehatan mental.
Foto: picpedia.org
Demensia (ilustrasi). Penyakit gusi dan kehilangan gigi ada kaitannya dengan berkurangnya materi abu-abu dan menurunnya kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Neurology menunjukkan menyikat gigi dapat menjaga kesehatan otak, membantu mengurangi risiko demensia. Studi tersebut menemukan orang dengan kebersihan gigi yang baik memiliki lebih banyak neuron di area hippocampus.

"Hippocampus berperan dalam memori," ujar hasil studi tersebut, seperti dikutip dari laman Fox News, Selasa (11/7/2023).

Baca Juga

Penyakit gusi dan kehilangan gigi dikaitkan dengan berkurangnya materi abu-abu dan menurunnya kesehatan mental. Temuan ini memiliki implikasi klinis karena kunjungan rutin ke dokter gigi dapat membantu mencegah Alzheimer, menurut para ilmuwan.

Penulis utama dr Satoshi Yamaguchi dari Universitas Tohoku di Jepang mengatakan gigi tanggal dan penyakit gusi, yang merupakan peradangan pada jaringan di sekitar gigi yang dapat menyebabkan penyusutan gusi dan melonggarnya gigi. Ini sangat umum terjadi.

 

"Jadi mengevaluasi hubungan potensial dengan demensia sangatlah penting," ujarnya.

Yamaguchi menjelaskan studinya menemukan kondisi ini mungkin berperan dalam kesehatan area otak yang mengontrol pemikiran dan ingatan, memberi orang alasan lain untuk merawat gigi mereka dengan lebih baik. Menurutnya, mengunyah meningkatkan aliran darah dan oksigen ke kepala, menjaga otak tetap sehat.

Kehilangan gigi juga dapat menyebabkan makan yang tidak sehat. Penyakit gusi disebabkan oleh peradangan pada jaringan penyangga gigi. Kondisi ini memengaruhi sekitar satu dari tujuh orang dewasa.

Studi tersebut melibatkan 172 peserta asal Jepang yang rata-rata berusia 67 tahun. Mereka tidak memiliki masalah memori pada awalnya.

Bagi mereka dengan penyakit gusi ringan, gigi yang lebih sedikit dikaitkan dengan tingkat penyusutan otak yang lebih cepat di hippocampus kiri, kunci untuk mengingat kata dan bahasa. Fenomena yang sama diidentifikasi pada mereka yang menderita penyakit gusi parah dan lebih banyak gigi.

"Hasil ini menyoroti pentingnya menjaga kesehatan gigi dan tidak hanya mempertahankan gigi," kata Yamaguchi.

Temuan ini, lanjut Yamaguchi, menunjukkan bahwa mempertahankan gigi dari penyakit gusi yang parah berhubungan dengan pengecilan otak. Ia menyebut sangat penting untuk mengontrol perkembangan penyakit gusi melalui kunjungan rutin ke dokter gigi.

"Gigi dengan penyakit gusi yang parah mungkin perlu dicabut dan diganti dengan alat prostetik yang sesuai," tuturnya.

Pada penyakit gusi ringan dan parah, satu gigi kurang atau satu lebih setara dengan hampir satu tahun dan 1,3 tahun penuaan otak. Mereka juga melakukan pemindaian otak untuk mengukur volume hippocampus pada awal penelitian.

Untuk setiap peserta, peneliti menghitung jumlah gigi dan memeriksa penyakit gusi dengan melihat kedalaman probing periodontal, pengukuran jaringan gusi. Pembacaan yang sehat adalah dari satu hingga tiga milimeter.

Penyakit gusi ringan melibatkan kedalaman probing tiga atau empat mm di beberapa area, dan penyakit gusi parah lima atau enam mm serta lebih banyak keropos tulang. Hal ini dapat menyebabkan gigi menjadi goyang dan akhirnya tanggal.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement