Selasa 20 Jun 2023 04:01 WIB

Sakit Lutut Berulang, Penderita Harus Minum Obat Seumur Hidup?

Penderita sakit lutut juga mengira asupan sayuran hijau picu kekambuhan.

Jangan anggap remeh nyeri pada bagian lutut karena bisa berdampak buruk pada kesehatan/ilustrasi
Foto: Pexels
Jangan anggap remeh nyeri pada bagian lutut karena bisa berdampak buruk pada kesehatan/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang mengira penderita sakit lutut yang tak kunjung sembuh harus minum obat seumur hidup. Betulkah demikian?

Pakar rehabilitasi medik dr Arief Soemarjono, Sp.KFR, FACSM mengatakan pandangan itu keliru. Sebab, penanganannya tidak sama seperti penderita penyakit metabolik, misalnya diabetes.

Baca Juga

Dokter Arief mengatakan karena berhubungan dengan aktivitas atau gerak maka koreksi dipandu dokter spesialis rehabilitasi medik, yakni untuk semua aktivitas pasien yang membebani sendi lututnya. Pengobatan semisal alat bantu jalan juga dapat diberikan supaya kualitas pasien sakit lutut tetap baik.

"Kalau sakit lutut yang tidak sembuh atau berulang, perlu minum obat seumur hidup? Tidak. Biasanya akan kami evaluasi misalnya apakah berat badan tetap gemuk, apakah aktivitasnya masih naik dan turun tangga, jongkok, lari, loncat, apakah latihan yang diberikan dikerjakan," kata dr Arief dalam sebuah acara kesehatan di Jakarta, dikutip Senin (19/6/2023).

Ini seperti halnya pernah Arief lakukan pada salah satu pasien beberapa waktu lalu. Tanpa menyebut identitas gender dan usia sang pasien, dia mengungkapkan sang pasien mengalami masalah lutut akibat naik dan turun tangga ke lantai enam selama 10 tahun.

"Katanya buat latihan supaya ototnya kuat. Dalam 10 tahun lututnya rusak. (Naik dan turun tangga supaya otot kuat) itu salah satu informasi yang salah," kata Ketua Komite Medis Klinik Flex Free itu.

Kelainan pada muskuloskeletal atau sendi, tulang dan otot berhubungan dengan aktivitas, bukannya makanan seperti pada penyakit lain semisal metabolik. Pengobatan atau penanganan pada kasus pun sebenarnya tak mesti dalam bentuk pemberian obat, melainkan dapat juga melalui rangkaian latihan tertentu untuk pasien, pemberian edukasi, hingga pemberian alat bantu berjalan.

Selain itu, bisa juga dengan injeksi pelumas sendi dengan bantuan USG Muskuloskeletal, dan terapi regeneratif seperti Prolotherapy, Platelet Rich Plasma (PRP) muskuloskeletal, ataupun secretom.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement