Sabtu 17 Jun 2023 21:49 WIB

Mengapa Pasien yang Digigit Hewan Rabies Jadi Takut Air?

Ketakutan terhadap air dan angin merupakan bagian dari gejala rabies.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti
Waspada gigitan hewan rabies (ilustrasi). Salah satu gejala pasien yang digigit hewan rabies di antaranya menjadi takut pada air.
Foto: Republika
Waspada gigitan hewan rabies (ilustrasi). Salah satu gejala pasien yang digigit hewan rabies di antaranya menjadi takut pada air.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belakangan ini viral sejumlah video di media sosial mengenai pasien-pasien yang digigit hewan dengan penyakit rabies. Dalam video-video tersebut, para pasien rabies tampak menunjukkan sikap yang sama, yaitu takut terhadap air dan angin.

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus rabies atau lyssavirus. Penyakit ini ditularkan dari hewan terinfeksi ke manusia melalui liur. Manusia bisa terpapar liur hewan yang terinfeksi melalui gigitan, cakaran, atau paparan langsung pada mukosa seperti mata atau luka terbuka.

Baca Juga

"Masa inkubasi rabies umumnya 2-3 bulan, tapi bisa beragam mulai dari satu pekan hingga satu tahun, tergantung berbagai faktor, seperti lokasi masuknya virus dan muatan virus," jelas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) seperti dilansir laman resminya, Sabtu (17/6/2023).

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr Imran Pambudi MPHM, sekitar 95 persen kasus rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing yang terinfeksi. Per April 2023, ada 11 kasus kematian akibat rabies yang terjadi di Indonesia.

 

Secara klinis, rabies bisa dibagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah furious rabies yang ditandai dengan hiperaktivitas dan halusinasi. Jenis yang kedua adalah paralytic rabies yang ditandai dengan kelumpuhan dan koma.

Sebagian besar kasus rabies pada manusia merupakan furious rabies. Hanya sekitar 20 persen kasus rabies pada manusia yang merupakan paralytic rabies.

Ketakutan terhadap air (hidrofobia) dan angin (aerofobia) merupakan bagian dari gejala rabies. Kedua gejala ini umumnya ditemukan pada kasus furious rabies bersamaan dengan gejala lain seperti hiperaktivitas dan kurang koordinasi.

"Setelah gejala klinis muncul, rabies sebenarnya 100 persen fatal (menyebabkan kematian)," kata WHO.

Menurut studi dalam The Journal of Neuropsychiatry and Clinical Neurosciences, gejala hidrofobia dan aerofobia muncul ketika pasien rabies mengalami ensefalitis batang otak.

Di dalam tubuh, hal pertama yang dilakukan oleh virus rabies adalah mengikatkan diri pada reseptor di sel-sel otot dan menyebabkan demam ringan dan nyeri. Seiring waktu, virus akan mempengaruhi saraf-saraf di dalam tubuh pasien dan memunculkan rasa nyeri atau parestesia pada area luka gigitan hewan.

Virus rabies lalu akan menyebar ke area sistem saraf pusat dan menyebabkan terjadinya ensefalitis yang progresif. Ketika ensefalitis batang otak terjadi, pasien rabies akan menunjukkan gejala seperti hidrofobia, aerofobia, hiperaktivitas, dan fluktuasi kesadaran.

Meski mematikan, rabies pada manusia sebenarnya sangat mungkin untuk dicegah. Salah satu upaya yang sangat efektif dan terjangkau adalah melakukan vaksinasi pada anjing. Vaksinasi pada manusia juga dapat dilakukan, baik sebelum maupun setelah terpapar rabies. Vaksinasi sebelum terjadi paparan biasanya direkomendasikan pada orang-orang yang berisiko tinggi, seperti pekerja laboratorium yang menangani virus rabies.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement