Senin 12 Jun 2023 14:11 WIB

Pakar Sarankan Esport Masuk dalam Kurikulum Sekolah, Setuju?

Sekolah dinilai perlu menyiapkan anak-anak untuk profesi di era modern.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Natalia Endah Hapsari
  Esport dinilai perlu masuk dalam kurikulum sekolah, guna mengajarkan keterampilan digital yang vital untuk anak.
Foto: EPA-EFE/KITH SEREY
  Esport dinilai perlu masuk dalam kurikulum sekolah, guna mengajarkan keterampilan digital yang vital untuk anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Esport atau olahraga elektronik dinilai perlu masuk dalam kurikulum sekolah, guna mengajarkan keterampilan digital yang vital untuk anak. Hal itu disampaikan oleh pakar generasi dan sejarawan nilai-nilai kontemporer, Eliza Filby.

Dikutip dari laman Express, Senin (12/6/2023), Filby menyoroti bahwa esport mempromosikan komunikasi dan keterampilan teknis yang akan semakin berharga di pasar pekerjaan digital. Menurut Filby, sekolah perlu menyiapkan anak-anak untuk pekerjaan modern.

Baca Juga

Terlebih revolusi digital telah terjadi dalam beberapa dekade terakhir sehingga amat penting bagi murid sekolah untuk menguasai keterampilan teknis. Filby juga mengomentari sebuah penelitian terkait kurikulum berbasis teknologi yang digagas Dell dan Intel.

Penelitian terhadap 700 anak berusia 11 hingga 17 tahun itu menemukan lebih dari setengah responden ingin ada lebih banyak mata pelajaran berbasis teknologi dalam kurikulum sekolah. Sebanyak 41 persen responden mengaku berminat pada esport.

Begitu pula minat pada pembuatan konten, coding, dan pembuatan podcast juga tercatat cukup besar. Sejumlah 56 persen responden menganggap kualifikasi dalam esport bersama orang lain akan meningkatkan peluang mereka untuk masuk ke universitas.

Filby mengatakan sekolah untuk generasi saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Pengalaman belajar yang signifikan terjadi di luar kelas, dan salah satu area tersebut adalah gim atau esport. Gim bukanlah bentuk hiburan pasif seperti menonton TV, tetapi butuh keterlibatan proaktif.

Dalam pandangan Filby, terlibat dalam pertandingan atau kompetisi esport dapat meningkatkan keterampilan seperti pemecahan masalah, pemikiran strategis dan kolaborasi. Ada keuntungan lain seperti meningkatkan keterampilan digital, termasuk pengembangan perangkat lunak dan grafis visual.

"Jelas ada kesalahpahaman bahwa bermain gim dan esport tidak memiliki nilai nyata bagi kaum muda, ketika sebenarnya keterampilan bisa dikembangkan, yang akan mempersiapkan mereka untuk masa depan Metaverse dan AI yang tak terelakkan," ungkap Filby.

Dia menyadari ada hal-hal lain yang dibutuhkan Gen Alpha, seperti interaksi dengan alam dan komunikasi tatap muka. Namun, pendidik perlu memahami bahwa bermain gim juga merupakan salah satu pengalaman inti. Kurikulum yang memungkinkan anak-anak untuk fokus pada esport dan keterampilan digital akan sangat bermanfaat.

Dalam studi yang sama, 53 persen siswa berpikir kualifikasi esport akan berguna selayaknya mata pelajaran inti seperti matematika dan bahasa Inggris. Sejumlah 45 persen menyebutnya relevan dengan beberapa mata pelajaran pendidikan tinggi.

Sejumlah 40 persen responden percaya kurikulum yang memasukkan esport memberi kesempatan kepada mereka yang secara tradisional aspek akademisnya tidak seperti orang lain. Sementara, 44 persen responden mengatakan kualifikasi seperti itu akan meningkatkan literasi digital, juga kemampuan komunikasi dan kolaborasi.

Studi merupakan evolusi dari penelitian Elevating esports in Education Dell dan Intel pada 2022. Brian Horsburgh dari Dell Technologies menyebut temuan studi itu cukup signifikan. Dia mendorong institusi pendidikan memanfaatkan minat siswa, seperti esport, untuk menjadi kunci mengembangkan potensi anak.

"Esport dapat membantu mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk peluang kerja di masa depan, jadi batu loncatan ke pendidikan tinggi, magang, dan karier, serta mulai menjembatani kesenjangan keterampilan digital yang terus melebar," ujar Horsburgh.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement