Rabu 10 May 2023 20:14 WIB

Terlalu Sering Pakai Inhaler Justru Tingkatkan Risiko Serangan Asma

Ketergantungan inhaler asma justru membahayakan penderita.

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda
Obat semprot untuk penderita asma. Gunakan inhaler short-acting beta-2 agonist (SABA) saat gejala pertama serangan asma muncul agar tidak terjadi perburukan, lanjutkan dengan obat pengontrol berbasis long-acting beta-agonist (LABA), agar penyakit lebih terkontrol dalam jangka panjang..
Foto:

Di situ, masyarakat dapat melihat seberapa tinggi tinggi risiko asma berat karena ketergantungan SABA. Tes pemeriksaan tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh tenaga medis maupun pengidap asma. Pengguna situs dapat mengetahui lebih jauh tentang tingkat bahaya SABA saat digunakan berlebihan.

"Dari kami juga tersedia BPJS untuk obat, kami usahakan terbuka untuk semua rakyat. Untuk kategori berat tidak terkontrol sedang didaftarkan,” kata dr Feddy.

Panduan GINA terbaru juga didasari bukti ilmiah tentang penggunaan SABA tunggal yag tidak mampu memberikan proteksi bagi penderita dari asma eksaserbasi yang berat. Penggunaan SABA tunggal dalam jangka panjang, baik secara regular maupun sering, dapat meningkatkan risiko kekambuhan.

Penderita asma harus semakin menyadari pentingnya obat pengontrol, bukan lagi sekadar obat golongan jenis SABA. Ketika selesai memakai obat pelega dan tidak terjadi serangan, seharusnya mendapat obat kedua, yaitu pengontrol berbasis long-acting beta-agonist (LABA), agar penyakit lebih terkontrol dalam jangka panjang.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement