Kamis 20 Apr 2023 12:17 WIB

Tips Berhenti Merokok dari Ahli

Berhenti menurunkan risiko 12 jenis kanker hingga strok.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Reiny Dwinanda
Selain menjalani terapi, tekad yang kuat dibutuhkan untuk bisa berhenti merokok.
Foto: Prayogi/Republika
Selain menjalani terapi, tekad yang kuat dibutuhkan untuk bisa berhenti merokok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Laporan ahli bedah umum dari tahun 2020 menunjukkan orang yang berhenti merokok dapat meningkatkan harapan hidup mereka hingga 10 tahun. Menurut laporan itu, menghilangkan kebiasaan merokok menurunkan risiko 12 jenis kanker, strok, penyakit jantung, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), satu dari setiap lima kematian di AS dapat dikaitkan dengan merokok. Selain itu, ada banyak manfaat lain yang memperkaya hidup dari berhenti merokok.

Baca Juga

Seorang dokter yang berbasis di New York, AS dengan spesialisasi pengobatan kecanduan, David Seitz mengatakan nonperokok memiliki tingkat energi yang lebih tinggi, indra penciuman dan rasa yang lebih baik, pernapasan dan penampilan yang lebih baik, kesuburan yang lebih besar, dan lebih sedikit stres.

"Selain itu, berhenti merokok dapat membantu mengurangi paparan asap rokok bagi orang-orang di sekitar Anda, menjadikannya lingkungan yang lebih sehat untuk semua," kata Seitz, dikutip dari Fox News Digital, Kamis (20/4/2023).

Tentu saja, Anda juga akan memperbanyak tabungan finansial. Diperkirakan bahwa merokok satu bungkus sehari menghabiskan biaya sekitar 1.900 dolar AS (sekitar Rp 29 juta) per tahun, yang berarti lebih dari 95 ribu dolar AS (sekitar Rp 1,4 miliar) selama 50 tahun.

CDC menuliskan sulit untuk berdebat dengan jumlah yang meyakinkan untuk berhenti merokok, tapi hampir 40 juta orang dewasa AS masih merokok. Seitz membagikan beberapa tip cepat untuk menjalani hidup bebas asap rokok. Pastikan untuk menyingkirkan semua pengingat merokok dari rumah dan mobil, termasuk asbak dan korek api.

"Ketika lingkungan bebas dari godaan, Anda lebih cenderung bertahan dengan tujuan untuk berhenti dan terbiasa menjalani kehidupan bebas rokok," ujar Seitz.

Membangun sistem pendukung yang solid. Seitz meyakinkan bahwa berhenti merokok bisa jadi sulit, sehingga penting untuk memiliki sistem pendukung yang kuat yang dapat membantu memotivasi dan memberikan dukungan emosional. Mintalah beberapa teman atau anggota keluarga untuk "siap siaga" dan membuat Anda tetap bertanggung jawab selama perjalanan berhenti merokok.

"Beberapa orang juga menemukan kesuksesan melalui telepon atau layanan konseling daring, atau bahkan menghadiri kelompok pendukung untuk membantu agar tetap berada di jalur yang benar," kata Seitz.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement