Rabu 19 Apr 2023 09:02 WIB

Bahaya Ngecas Ponsel di Tempat Umum, Data Bisa Dicuri Penjahat Siber?

Untuk mencegah kejahatan siber, biasakan bawa perangkat charger sendiri.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Qommarria Rostanti
HP sedang dicharger (ilustrasi). FBI memperingati masyarakat untuk tidak mengisi daya baterai HP di tempat pengisian daya gratis untuk menghindari kejahatan siber.
Foto: www.freepik.com
HP sedang dicharger (ilustrasi). FBI memperingati masyarakat untuk tidak mengisi daya baterai HP di tempat pengisian daya gratis untuk menghindari kejahatan siber.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada pekan lalu, Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat (AS) telah mengirim cicitan peringatan kepada pemilik ponsel cerdas. Isinya mengimbau orang-orang untuk menghindari penggunaan stasiun pengisian daya ponsel di tempat umum secara gratis.

Menurut FBI, dari aktivitas tersebut, pelaku kejahatan menemukan cara menggunakan port USB publik untuk memasukkan malware dan perangkat lunak pemantauan ke perangkat. Maka dari itu, FBI menyarankan agar membawa peranti charger atau kabel USB sendiri serta gunakan stopkontak listrik sebagai gantinya.

Baca Juga

Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber Communication & Information System Security Research center (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan, kejahatan siber yang paling mungkin terjadi berkaitan dengan peringatan FBI tersebut adalah pencurian data yang ada di dalam ponsel pintar. Bahkan pelaku sampai bisa menguras isi rekening bank dari aplikasi mobile banking dengan cara melakukan infeksi malware untuk melakukan pengambilalihan kontrol dari ponsel pintar.

Menurut Pratama, saat ini belum ada laporan resmi terkait jatuhnya korban dari metode juice jacking ini. Tetapi, kata dia, akibat yang ditimbulkan akan sama seperti pada saat kita melakukan instalasi aplikasi malware yang disebar melalui tautan undangan atau laporan kurir.

Pratama menyebut, korban sering kali tidak sadar bahwa ponsel pintar mereka sudah dimasuki malware, namun ada beberapa petunjuk yang bisa dimanfaatkan. “Yaitu, konsumsi baterai lebih tinggi daripada biasanya, smartphone terasa lebih lambat bekerja, butuh waktu lebih lama pada saat loading serta sering crash karena penggunaan akses data yang berlebihan,” ujar Pratama saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (18/4/2023).

Dia memberikan beberapa solusi yang bisa dilakukan terkait hal ini, antara lain menghindari menggunakan outlet USB yang ada di tempat umum dan selalu menggunakan outlet AC untuk mengisi daya, serta sebisa mungkin menggunakan adaptor pengisi daya dan kabel USB milik sendiri. Pratama mengatakan, langkah lainnya adalah dengan cara membawa power bank serta membawa kabel USB yang hanya untuk mengisi daya dan tidak bisa untuk transfer data.

Kemudian pada saat kita menghubungkan smartphone ke outlet USB dan ada pertanyaan transfer data atau hanya isi daya, selalu pilih opsi “hanya isi daya”. "Smartphone kita juga disarankan menggunakan two factor authentication atau biometrik pada saat login dan tidak lupa untuk selalu lakukan software update pada smartphone,” katanya.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement