Senin 20 Feb 2023 22:44 WIB

Hadapi Orang yang Gampang Cemas? Hindari Melontarkan Kalimat Ini

Ada kalimat tak simpati yang kerap disampaikan saat orang mengalami kecemasan.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti
Ilustrasi orang yang punya gangguan kecemasan. Ada beberapa kata atau kalimat yang sebaiknya tidak Anda ucapkan ketika menghadapi orang dengan gangguan kecemasan. (ilustrasi)
Foto: Dok Republika
Ilustrasi orang yang punya gangguan kecemasan. Ada beberapa kata atau kalimat yang sebaiknya tidak Anda ucapkan ketika menghadapi orang dengan gangguan kecemasan. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang dengan anxiety atau kecemasan cenderung memiliki rasa takut dan khawatir yang datang terus-menerus tentang situasi sehari-harinya. Dalam banyak kasus, perasaan itu muncul tanpa alasan, hasil dari pemikiran "bagaimana jika" yang padahal tidak mungkin terjadi.

Bagi mereka yang memiliki kecemasan, kekhawatiran ini sangat nyata dan bisa sangat menyusahkan. Ketika seseorang mendatangi Anda dengan kekhawatiran yang mereka miliki, penting untuk mengetahui bagaimana cara menanggapinya.

Baca Juga

Tidak banyak orang mengetahui harus berkata apa dalam situasi ini. Akhirnya, mereka bersikap tidak simpati secara tidak sengaja.

“Orang-orang mengatakan hal-hal kasar kepada mereka yang mengalami kecemasan karena mereka tidak memahaminya,” kata pakar kecemasan, Kelly McKenna, seperti dikutip dari laman Huff Post, Senin (20/2/2023).

Menurut dia, masyarakat belum belajar bagaimana menangani percakapan ini dengan benar. Beberapa terapis dan profesional kesehatan mental membeberkan kalimat-kalimat tidak simpati, yang kerap disampaikan seseorang saat mengalami kecemasan:

1. Semuanya hanya ada di kepalamu, berhentilah terlalu khawatir.

Orang dengan kecemasan tahu bahwa itu ada di kepala mereka, dan itu salah satu bagian tersulit. Mereka yang memiliki gangguan kecemasan tidak bisa begitu saja berhenti khawatir. Ini tidak seperti mereka dapat menekan tombol untuk menghilangkan kecemasan mereka secara ajaib.

Jika semudah itu, orang tidak akan merasa cemas sepanjang waktu. Meskipun orang mengatakan itu untuk membantu meredakan kecemasan, tapi itu terasa seperti sesuatu yang "salah" bagi orang yang mengalami kecemasan. "Itu dapat menyebabkan mereka lebih frustrasi,” kata seorang psikiater, dr Kristin Gill.

2. Tenang

Siapa pun yang mengalami kecemasan pasti mereka pernah diminta untuk tenang. Komentar semacam ini bisa sangat tidak valid, terutama di saat-saat sulit. “Ini meremehkan dan menyebut mereka terlalu berlebihan dan mungkin akan menjengkelkan,” kata pekerja sosial klinis profesional, Crystal Britt.

3. Setidaknya kamu tidak seburuk...

Pepatah yang menyebut bahwa perbandingan adalah akar dari segala kejahatan mungkin terdengar sangat familier. Gagasan serupa berlaku saat berbicara tentang kecemasan. Meskipun seseorang mungkin tidak memiliki rangkaian masalah yang sama, hal itu tidak lantas menganggap masalah mereka sepele.

“Membandingkan dengan pengalaman hidup yang dianggap lebih buruk, dapat meremehkan pengalaman emosional orang yang sedang mengalami kecemasan,” kata psikolog profesional di North Carolina, Leia Charnin.

4. Hadapi itu

Seseorang dengan gangguan kecemasan klinis mungkin tidak dapat mengatasinya semudah menjentikkan jari. Mereka membutuhkan dukungan dan dorongan untuk mengatasi kecemasan mereka dan mengambil langkah menuju kemajuan.

5. Kamu hanya perlu tidur, berolahraga, atau berdoa

Memang benar bahwa tidur dan berolahraga dapat membantu memperbaiki gejala yang terkait dengan kecemasan. Namun, ketika seseorang bercerita untuk menyatakan rasa kekhawatirannya, ini adalah salah satu hal terakhir yang ingin mereka dengar.

Jika satu perubahan sederhana dapat memperbaiki kecemasan, pasti orang tersebut sudah melakukannya. "Masalah kesehatan mental jarang memiliki solusi sederhana," kata Britt.

6. Itu bukan masalah besar

Meskipun mungkin tidak tampak seperti masalah besar, orang yang merasa cemas akan sangat tidak setuju. Itu salah satu aspek yang paling menantang tentang memiliki kecemasan, karena semuanya tampak mengkhawatirkan.

“Kalimat 'itu bukan masalah besar' adalah bentuk pengabaian emosional. Meskipun secara faktual tanggapan ini masuk akal bagi pembicara, tapi penerima mungkin merasa diabaikan, disalahpahami, dan bahkan lebih kesepian,” kata Charnin.

 

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement