Sabtu 04 Feb 2023 22:02 WIB

Pria yang Lebih Dekat dengan Keluarga Cenderung Lebih Bahagia

Mereka yang mengaku lebih kesepian dilaporkan merasa kurang bahagia.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Qommarria Rostanti
Peneliti melakukan penelitian selama 80 tahun tentang kebahagiaan. (ilustrasi)
Foto: republika
Peneliti melakukan penelitian selama 80 tahun tentang kebahagiaan. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi terlama tentang kebahagiaan manusia mengungkapkan tiga faktor kunci untuk mempertahankan keberadaan yang sukses dan terpenuhi dan tidak melibatkan uang. Sebuah buku berjudul The Good Life didasarkan pada studi selama 80 tahun yang dilakukan oleh Harvard Study of Adult Development di Harvard Medical School di Cambridge, Massachusetts.

Studi yang sekarang dipimpin oleh profesor Robert Waldinger dan Marc Schulz ini dimulai pada 1938 ketika para peneliti mulai mempelajari apa yang membuat hidup bermakna. Pada 1930-an, penelitian tersebut merekrut 724 peserta, beberapa di antaranya adalah mahasiswa di Harvard dan lainnya berasal dari lingkungan berpenghasilan rendah di Boston.

Baca Juga

Pada awal penelitian, para pria tersebut menjalani pemeriksaan medis dan orang tua mereka diwawancarai untuk memberi peneliti pemahaman yang mendalam tentang kehidupan mereka. Setiap dua tahun, pria-pria ini ditanyai tentang kehidupan mereka, termasuk kualitas pernikahan, kepuasan kerja, dan aktivitas sosial. Kesehatan fisik mereka diperiksa setiap lima tahun. Akhirnya, istri dan anak-anak mereka ikut belajar dan 25 peserta bahkan menyumbangkan otaknya untuk belajar setelah mereka meninggal.

Sepanjang rentang 80 tahun penelitian, satu tema menonjol sebagai dampak positif bagi kesehatan fisik, kesehatan mental, dan umur panjang peserta. Artinya, pentingnya menjaga hubungan yang berkualitas.

 

Profesor Waldinger, yang merupakan direktur keempat studi tersebut selama masa hidupnya, membahas temuan studi satu-satunya dalam "TED Talk 2015" yang telah dilihat lebih dari 44 juta kali.

Di bawah ini adalah tiga pelajaran untuk menjalani kehidupan yang baik:

1. Kesepian dapat membunuh

Dalam "TED Talk"-nya, Profesor Waldinger mengatakan hubungan sosial bermanfaat bagi kesehatan, dan memperingatkan bahwa kesepian dapat membunuh. Menurut penelitian Harvard, pria yang lebih dekat dengan keluarga, teman, atau komunitas cenderung lebih bahagia dan lebih sehat dibandingkan mereka yang kurang bersosialisasi.

Mereka juga cenderung hidup lebih lama. Sebagai perbandingan, mereka yang mengaku lebih kesepian dilaporkan merasa kurang bahagia, serta memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih buruk.

2. Kualitas di atas kuantitas

Meskipun kesepian itu berbahaya, namun dikelilingi oleh orang-orang itu sendiri tidak selalu membantu. Profesor Waldinger mengatakan, sebaliknya, kekuatan hubungan dengan orang lain inilah yang dapat memprediksi kesehatan tubuh dan otak saat Anda menjalani hidup.

"Kami tahu bahwa Anda bisa kesepian di tengah keramaian dan kesepian dalam pernikahan," ujarnya.

Nyatanya, pernikahan yang ditandai dengan konflik bisa berdampak buruk bagi kesehatan, dan dalam beberapa kasus lebih buruk daripada perceraian. "Sementara itu, hidup di tengah hubungan baik yang hangat itu protektif," ujarnya.

Bukan hanya berada dalam suatu hubungan yang penting. Pasangan menikah yang mengatakan terus-menerus bertengkar dan memiliki kasih sayang yang rendah satu sama lain, sebenarnya kurang bahagia dibandingkan orang yang tidak menikah sama sekali. Hal ini oleh para peneliti didefinisikan sebagai pernikahan dengan konflik tinggi.

3. Hubungan yang kuat baik untuk pikiran dan tubuh

Orang yang merasa bisa mengandalkan orang lain saat menghadapi masalah memiliki ingatan yang lebih kuat. Sedangkan mereka yang tidak memiliki hubungan yang kuat bisa menghadapi kemunduran lebih awal.

Namun, Waldinger menekankan hubungan yang baik bukanlah hubungan yang sempurna. Dia mengatakan, banyak pasangan yang diteliti bertengkar, mereka akhirnya tahu bahwa mereka memiliki seseorang untuk mendukung pada saat perselisihan.

Dia menyimpulkan, menjaga hubungan baik adalah kerja keras dan bukan perbaikan cepat untuk kesehatan dan kebahagiaan. Namun dia menekankan, penelitian tersebut berulang kali membuktikan manfaat dari ketekunan. Tindakan sederhana seperti menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang lain dan menjaga hubungan jangka panjang mampu meningkatkan kesehatan seseorang dan menghasilkan hidup yang panjang dan bahagia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement