Senin 19 Dec 2022 19:40 WIB

Bayi Berisiko Tertular Hepatitis B dari Ibunya Saat Proses Persalinan-Menyusu

Ibu yang menderita hepatitis B diserukan tidak menyusui bayinya secara langsung.

Bayi yang baru lahir (ilustrasi). Ibu yang menderita hepatitis B atau C biasanya akan disarankan melahirkan dengan operasi caesar untuk menghindari penularan penyakit pada bayinya.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Bayi yang baru lahir (ilustrasi). Ibu yang menderita hepatitis B atau C biasanya akan disarankan melahirkan dengan operasi caesar untuk menghindari penularan penyakit pada bayinya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit hepatitis juga dapat menjangkiti bayi. Infeksi virus hepatitis B, contohnya, dapat menular dari ibu kepada bayinya saat proses persalinan.

"Ibu yang menderita hepatitis B atau C biasanya akan melahirkan secara caesar untuk menghindari luka saat persalinan," kata dokter spesialis penyakit dalam Hendra Nurjadin dalam diskusi mengenai penyakit hepatitis yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (19/12/2022).

Baca Juga

Kedua virus hepatitis ini menular lewat darah dari penderita. Pada saat kehamilan, janin belum terinfeksi karena terlindung oleh plasenta dan ari-ari yang mempunyai filter.

"Saat melahirkan itu mungkin tidak terjaga proses persalinannya bisa luka sehingga akibatnya semua ibu yang punya hepatitis B akan dilahirkan secara caesar," ucap konsultan Gastro Entero Hepatologi Rumah Sakit Mayapada Tangerang ini.

 

Begitu lahir, bayi akan diberikan antivirus B. Caranya dengan pemberian vaksin hepatitis B.

"Imunisasi yang aktif, kita memberikan antibodi," ujar dr Hendra.

Bolehkah ibu yang menderita hepatitis B atau C menyusui? Dr Hendra menjelaskan virus hepatitis memang tidak masuk ke air susu.

Akan tetapi, ibu diserukan untuk tidak menyusui bayinya secara langsung karena dikhawatirkan akan terjadi luka pada saat proses menyusui yang akan menginfeksi bayi. Biasanya, dokter anak akan meminta ibu untuk memompa Air Susu Ibu (ASI). Pemberiannya dapat dengan sendok atau dot.

Selain itu, penularan hepatitis B dan C melalui darah juga bisa terjadi karena penggunaan alat pribadi yang memungkinkan terjadi perdarahan. Contohnya pisau cukur yang dipakai bersama dan injeksi obat pada pengguna obat-obatan terlarang.

"Kalau orangnya tertular secara darah itu meliputi penggunaan obat-obatan injeksi atau orang dengan pengguna obat-obatan narkoba dan jarum suntiknya tukar-tukaran, penggunaan alat yang bisa menimbulkan pendarahan. misalnya pisau cukur dan sebagainya," ucap dr Hendra.

Perilaku yang berisiko, seperti membuat tato di tempat yang tidak bersih, tindik telinga, atau aktivitas seksual yang tidak terjaga dengan baik, juga jadi faktor risiko penularan hepatitis B dan C melalui darah. Maka itu penggunaan alat pribadi yang memungkinkan terjadi perdarahan perlu untuk dipisah masing-masing individu

"Hepatitis B dan C ini dari darah, beberapa persen akan berkembang lebih lanjut menjadikan kronis dan itu bisa bertahan bertahun-tahun dan menjadikan kerusakan hati akhirnya akan menjadi sirosis maupun komplikasi ke arah kanker hati," ucap dr Hendra.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement