Sabtu 12 Nov 2022 00:07 WIB

Berapa Besar Asupan Kalori Ideal Saat Sarapan?

Berapa banyak kalori yang Anda perlu makan bergantung pada banyak faktor

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Christiyaningsih
Berapa banyak kalori yang Anda perlu makan bergantung pada banyak faktor (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com.
Berapa banyak kalori yang Anda perlu makan bergantung pada banyak faktor (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Sarapan merupakan salah satu jam makan yang penting dan sebaiknya tak dilewatkan. Asupan makan yang berkualitas dan dengan porsi tepat di awal hari bisa memberikan beragam manfaat bagi tubuh.

Terkait porsi, menentukan besaran asupan kalori saat sarapan akan sangat bergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Namun secara umum, wanita dengan kebutuhan 2.000 kalori per hari dianjurkan untuk mengonsumsi sarapan dengan besaran 300-400 kalori menurut panduan dari NHS dan USDA.

Baca Juga

Apabila memilih sarapan dengan 400 kalori, jumlah asupan kalori yang direkomendasikan saat makan siang dan makan malam adalah masing-masing 600 kalori. Dengan batas 2.000 kalori, masih ada sisa "jatah" 400 kalori untuk makanan cemilan atau bahan tambahan dalam minuman seperti susu untuk kopi.

Menurut studi yang dilakukan oleh tim peneliti University of Aberdeen, menerapkan porsi sarapan yang lebih besar dan porsi makan malam yang lebih kecil bisa membantu menekan rasa lapar di siang hari. Artinya, seseorang bisa mengonsumsi 600 kalori saat sarapan dan 400 kalori saat makan malam.

 

Bagi orang-orang yang ingin mencapai defisit kalori untuk menurunkan berat badan, porsi sarapan perlu disesuaikan dengan target. Kalkulator kalori daring bisa digunakan untuk membantu menghitung porsi sarapan yang ideal sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

"Berapa banyak kalori yang Anda perlu makan bergantung pada banyak faktor, seperti gaya hidup, kebiasaan olahraga, rutinitas sehari-hari, dan preferensi individu," jelas ahli gizi Signe Svanfeldt seperti dilansir Woman and Home.

Svanfeldt menekankan bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki kebutuhan asupan kalori yang berbeda-beda. Jika ingin mencoba mengatur porsi sarapan, coba terapkan pengaturan yang baru tersebut selama sepekan. Setelah itu, lihat apakah pengaturan baru tersebut sesuai untuk diri sendiri.

"Tak ada satu aturan yang sesuai untuk semuanya terkait kebiasaan sarapan," ujar Svanfeldt.

Sebagai tambahan, Svanfeldt mengatakan sebagian orang mungkin tidak bisa sarapan karena berbagai alasan, seperti merasa mual jika sarapan atau sedang menjalani diet intermittent fasting. Menurut Svanfeldt, orang-orang tersebut boleh saja melewatkan sarapan.

"Sebagian orang lebih menyukai sarapan porsi besar, sedangkan lainnya suka melewatkan sarapan dan menjadikan makan siang sebagai makan pertamanya," lanjut Svanfeldt.

Sebagai ahli gizi, Svanfeldt mengatakan tak ada aturan emas terkait hal tersebut. Baik sarapan maupun tidak, yang terpenting adalah seseorang mendapatkan asupan energi dan gizi yang cukup, sesuai dengan kebutuhan mereka.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement