Sabtu 27 Aug 2022 04:00 WIB

Mengapa Penyintas Covid-19 Sulit Konsentrasi, tak BIsa Mengingat Sebaik Dulu?

Penderita Covid-19 yang bergejala berat cenderung lebih banyak mengalami brain fog.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda
Sulit berkonsentrasi (Ilustrasi). Sebagian penyintas Covid-19 ada yang merasa bahwa mereka tak lagi bisa berkonsentrasi atau mengingat sebaik dahulu.
Foto: Pixabay
Sulit berkonsentrasi (Ilustrasi). Sebagian penyintas Covid-19 ada yang merasa bahwa mereka tak lagi bisa berkonsentrasi atau mengingat sebaik dahulu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagian penyintas Covid-19 mungkin merasa bahwa mereka tak lagi bisa berkonsentrasi atau mengingat sebaik dahulu. Keluhan-keluhan ini sebenarnya muncul karena mereka mengalami brain fog atau kabut otak akibat paparan Covid-19.

Salah satu penyintas Covid-19 dengan nama samaran Joan juga mengalami hal ini. Sejak sembuh dari Covid-19 sekitar sebulan lalu, Joan mulai mengalami brain fog.

Baca Juga

"Beberapa waktu lalu, saya sedang bicara dengan seseorang sambil menikmati kopi. Saya ingat saya memandang wajahnya dan mendengarkan suaranya. Tapi otak saya tak bisa memahami apa yang dia katakan," kata Joan, seperti dilansir CNA Lifestyle, Jumat (26/8/2022).

Tak jarang, Joan juga kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sesuatu. Selain itu, Joan kerap melupakan sesuatu yang penting.

 

Sebagai contoh, Joan biasanya bertugas menjemput anaknya di tempat penitipan anak sepulang bekerja. Namun, pada suatu hari, tugas tersebut diambil alih oleh sang suami karena Joan memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Di hari itu pula, Joan lupa bahwa suaminya yang akan menjemput anak mereka dari tempat penitipan. Selama di kantor, Joan merasa resah dan berupaya secepatnya untuk bisa segera menjemput sang anak di sekolah.

"Ketika saya sampai di sekolah, saya sedikit mengalami serangan panik karena saya tak bisa menemukan anak saya," kata Joan.

Usai terkena Covid-19, Joan juga sering merasa lesu seperti habis meminum obat batuk yang menyebabkan kantuk, namun tidak bisa tidur. Dia pun tak lagi mampu untuk berpikir dengan cepat.

"Saya membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat keputusan, bahkan untuk sekadar menentukan menu makan malam," tukas Joan.

Pemicu brain fog

Brain fog sebenarnya merupakan istilah awam untuk menggambarkan sebuah kondisi di mana seseorang tak bisa berpikir cepat atau mengalami gangguan daya ingat, konsentrasi, serta kejernihan mental. Fenomena brain fog juga tak hanya berkaitan dengan Covid-19 saja. Ada beragam kondisi lain yang juga dapat memicu brain fog.

"Contohnya, kehamilan, menopause, cedera kepala ringan, serta pemulihan dari infeksi lain, brain fog juga diketahui menjadi efek samping dari beberapa pengobatan, misalnya sebagian kemoterapi," kata associate professor Kevin Tan selaku konsultan senior dari departemen neurologi di National Neuroscience Institute, Singapura.

Terkait Covid-19, belum diketahui secara jelas bagaimana virus SARS-CoV-2 bisa mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Namun, beberapa studi awal menunjukkan bahwa ada penyusutan otak yang terjadi setelah seseorang terkena Covid-19.

"Tapi temuan ini perlu direplikasi dalam skala yang lebih luas lagi dan perlu dikaitkan dengan temuan-temuan lain mengenai bagaimana virus tersebut mempengaruhi otak," jelas Tan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement