Ahad 24 Jul 2022 12:05 WIB

Cacar Monyet Jadi Darurat Kesehatan Global, Siapa yang Paling Berisiko?

Cacar monyet bisa menyebar pada siapa saja yang melakukan kontak erat.

Rep: Adysha Citra Ramadani, Umi nur Fadhilah/ Red: Reiny Dwinanda
Foto yang dipasok CDC pada 1997 menunjukkan salah satu kasus cacar monyet di Republik Demokratik Kongo.  Ilmuwan masih belum mengerti penyebab kian banyaknya kasus cacar monyet terdeteksi di Eropa dan Amerika Utara pada 2022. Sepanjang tahun ini, ada lebih dari 16 ribu kasus cacar monyet yang terdeteksi di dunia. Risiko penularan berada pada tingkat sedang, kecuali di Eropa yang memiliki risiko penularan tinggi.
Foto: CDC via AP
Foto yang dipasok CDC pada 1997 menunjukkan salah satu kasus cacar monyet di Republik Demokratik Kongo. Ilmuwan masih belum mengerti penyebab kian banyaknya kasus cacar monyet terdeteksi di Eropa dan Amerika Utara pada 2022. Sepanjang tahun ini, ada lebih dari 16 ribu kasus cacar monyet yang terdeteksi di dunia. Risiko penularan berada pada tingkat sedang, kecuali di Eropa yang memiliki risiko penularan tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah cacar monyet yang saat ini sedang menyebar secara cepat sebagai "darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional" atau PHEIC. Ini merupakan tingkat peringatan tertinggi dari WHO.

Status PHEIC dirancang untuk mendorong lahirnya respons internasional yang terkoordinasi terhadap suatu wabah, dalam hal ini cacar monyet. Status PHEIC juga diharapkan dapat membuka peluang pendanaan untuk upaya kolaborasi dalam berbagi vaksin dan pengobatan.

Baca Juga

"Walaupun saya mendeklarasikan PHEIC, untuk sekarang, ini adalah wabah yang terkonsentrasi di antara pria yang berhubungan seksual dengan sesama pria, terutama orang-orang yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual," jelas Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dilansir Reuters, Ahad (24/7/2022).

Meski lebih banyak ditemukan pada kelompok tertentu, Ghebreyesus mengungkapkan bahwa cacar monyet bisa menyebar pada siapa saja yang melakukan kontak erat. Berkaitan dengan hal ini, Ghebreyesus mengatakan risiko penularan cacar monyet di dunia berada pada tingkat sedang, kecuali di Eropa, di mana risiko penularan tinggi.

 

"Respons internasional yang terkoordinasi merupakan hal esensial (untuk menekan penyebaran penyakit)," jelas direktur kesiapan pandemi Gedung Putih, Raj Panjabi.

Keputusan Ghebreyesus untuk menetapkan status PHEIC untuk wabah cacar monyet terbilang di luar prediksi. Sebelumnya, beberapa sumber menyatakan bahwa Ghebreyesus mungkin tak akan menetapkan status ini untuk wabah cacar monyet mengingat masih terbatasnya pasokan vaksin dan pengobatan untuk cacar monyet.

Meski begitu, banyak ahli yang menyambut baik deklarasi PHEIC ini. Banyak ahli menilai deklarasi ini akan membantu menekan penyebaran cacar monyet di berbagai belahan dunia.

"Kita tak bisa terus menunggu penyakit ini berkembang dulu sebelum kita mengintervensi," jelas kepala epidemi dan epidemiologi dari Wellcome Trust, Josie Golding.

photo
Asal usul cacar monyet. - (Republika)

Deklarasi ini juga diharapkan dapat membantu melindungi kelompok-kelompok berisiko yang rentan tertular oleh cacar monyet, seperti anak kecil. Pada Jumat lalu, Amerika Serikat menemukan dua kasus cacar monyet pertama yang mengenai anak-anak.

Sepanjang tahun ini, ada lebih dari 16 ribu kasus cacar monyet yang terdeteksi di dunia, dengan lima kasus kematian. Seluruh kasus ini ditemukan di lebih dari 75 negara. Pejabat WHO menilai wabah cacar monyet yang terjadi saat ini didorong oleh mode transmisi yang berbeda dari sebelumnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement