Kamis 30 Dec 2021 15:53 WIB

Dua Kabar Baik tentang Omicron pada Penghujung Tahun

Pakar menyimpulkan Omicron berdasarkan data.

Dua kabar baik tentang varian Omicron hadir di penghujung tahun ini (Foto: ilustrasi)
Foto: Pixabay
Dua kabar baik tentang varian Omicron hadir di penghujung tahun ini (Foto: ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, 

Oleh: Umi Nur Fadhilah

Baca Juga

Dua kabar baik tentang varian omicron hadir di penghujung tahun ini. Data menunjukkan bahwa varian ini mungkin tidak akan lama dan orang-orang yang divaksinasi lengkap tidak perlu khawatir, selama mereka memiliki sistem kekebalan tubuh sehat.

Karena Omicron sangat menular, para ahli medis mengatakan puncak varian ini tidak akan bertahan lama. Varian ini sudah menyebar di Afrika Selatan, sejak pertama kali diidentifikasi sehari sebelum Thanksgiving. Dalam pekan yang berakhir pada 26 Desember, data Johns Hopkins University bahwa jumlah yang baru didiagnosis telah turun hampir 36 persen dari puncaknya seminggu sebelumnya. 

 

Jika daerah lain yang telah dihantam varian Omicron mengikuti pola yang sama, maka mereka dapat melihat penurunan tingkat kasus segera setelah pertengahan Januari. Meskipun dua dosis suntikan tidak melindungi terhadap Omicron, tetapi vaksinasi tampaknya membuat perbedaan besar pada orang dengan sistem kekebalan yang sehat. 

Pasien yang telah mendapat tiga suntikan, tampaknya menderita sakit tenggorokan parah, beberapa kelelahan dan nyeri otot selama beberapa hari. Hal itu diungkapkan seorang dokter ruang gawat darurat di New York City, Craig Spencer di laman Twitternya.

Dia berbagi bawah orang yang pernah mendapat dua suntikan mengalami gejala yang sedikit lebih buruk. "Lebih lelah. Lebih banyak demam. Lebih banyak batuk. Sedikit lebih menyedihkan secara keseluruhan," tulis Spencer dilansir USA Today, Kamis (30/12).

Kemudian, nasib lebih buruk mengincar mereka yang baru saja mendapat satu suntikan, seperti merasa tidak enak badan selama beberapa hari. Spencer mengatakan hampir semua yang harus dirawat di rumah sakit karena Covid-19 itu adalah mereka yang tidak divaksinasi.

"Setiap orang dengan sesak napas berat. Setiap orang yang oksigennya turun ketika mereka berjalan. Setiap orang membutuhkan oksigen untuk bernapas secara teratur,” kata Spencer.

Dokter di rumah sakit lain menguatkan pernyataannya. Orang yang divaksinasi hanya memiliki gejala yang lebih sedikit, dan sakit untuk waktu lebih singkat. Satu-satunya pengecualian adalah mereka yang sistem kekebalannya lemah, mungkin karena pengobatan atau usia tua.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement