Rabu 17 Nov 2021 15:50 WIB

Masker Medis Kini Bisa Dipakai Berulang Kali

Penelitian sebut masker medis kini bisa dipakai berulang kali dengan dipanaskan.

Penelitian sebut masker medis kini bisa dipakai berulang kali dengan dipanaskan.
Foto: www.freepik.com
Penelitian sebut masker medis kini bisa dipakai berulang kali dengan dipanaskan.

REPUBLIKA.CO.ID, 

Oleh: Santi Sopia

Baca Juga

Penggunaan masker medis atau masker sekali pakai yang dianjurkan di masa pandemi Covid-19 cukup berdampak bagi lingkungan. Para peneliti pun mencoba mencari solusi setidaknya untuk masker medis yang diketahui hanya untuk sekali pakai.

Peneliti menemukan bahwa masker medis dapat dipakai beberapa kali dengan catatan tertentu. Masker perlu melewati tahap pemanasan untuk membunuh bakteri atau virus yang menempel. Proses pemanasan tersebut dinamakan dekontaminasi.

 

Menurut laporan Futurity.org, dilansir Rabu (17/11), sebuah studi baru menunjukan bahwa pemanasan yang tepat bisa menghilangkan virus yang menyebabkan Covid-19 dari masker bedah sekali pakai standar tanpa merusak masker itu sendiri. Studi baru di Journal of Hazardous Materials tersebut menunjukkan masker dapat didekontaminasi dan digunakan kembali beberapa kali sebelum didegradasi.

Untuk melakukannya juga bisa dengan peralatan sederhana, seperti menggunakan oven rumah tangga. Panaskan masker dengan suhu 160 derajat Fahrenheit (sampai 70 derajat celcius) di oven selama lima menit.

Suhu tersebut dipercaya membunuh lebih dari 99,9 persen SARS-CoV-2 dan virus lain yang diuji oleh peneliti, berdasarkan pedoman FDA untuk dekontaminasi. Hal sederhana ini juga dapat menjadi alternatif di tengah mahalnya harga alat pelindung diri (APD).

Makalah baru yang mengungkapkan temuan ini adalah yang ketiga dari seri terkait pandemi Covid-19. Makalah pertama dari Agustus 2020 menyarankan pendekatan termal untuk dekontaminasi yang layak. Makalah kedua, yang muncul pada bulan Mei, membandingkan efek kisaran suhu pada virus di beberapa lokasi AS.

Studi saat ini memperkenalkan kerangka pemodelan yang dapat digunakan peneliti untuk menentukan seberapa banyak panas yang dibutuhkan. Selain itu, butuh berapa lama untuk membunuh virus. 

“Kerangka kerja ini tidak hanya berlaku untuk virus di udara seperti SARS-CoV-2, tetapi juga virus yang hidup di permukaan dan ditularkan terutama melalui sentuhan,” kata Daniel Preston, asisten profesor teknik mesin di Sekolah Teknik George R Brown di Rice University.

Preston dan mahasiswa pascasarjana Faye Yap memerinci metode dekontaminasi yang telah dicoba tetapi hanya berhasil sampai tingkat tertentu. Jika menggunakan paparan sinar ultraviolet, rupanya tidak mencapai lipatan atau celah yang umum pada masker dan cenderung dapat merusak struktur masker. Cara lain seperti dengan desinfektan kimia juga tidak cukup aman karena dapat meninggalkan residu berbahaya.

"Secara umum, telah terbukti bahwa sinar ultraviolet cukup efektif, terutama untuk permukaan datar atau halus. Tetapi tidak semua orang memiliki akses ke UV, dan panas mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh celah atau lipatan pada kain,” lanjut Preston.

Baca juga : Vaksin Covid-19 Prancis Valneva Bekerja dengan Cara Berbeda

Preston bekerja dengan kolaborator di Cabang Medis Texas University, Galveston, yang melakukan sebagian besar eksperimen pemanasan. Peneliti benar-benar kesulitan menemukan literatur yang jelas untuk menggambarkan efek suhu terhadap dekontaminasi virus. Pada akhirnya, apa yang peneliti hipotesiskan, sekarang telah terbukti benar bahwa inaktivasi termal virus dapat dengan mudah dijelaskan dengan kombinasi dua hubungan mendasar.

“Salah satunya adalah persamaan Arrhenius, yang menghubungkan parameter reaksi dengan suhu. Dan yang lainnya adalah hukum laju, yang menggunakan parameter reaksi tersebut untuk memberi tahu seberapa cepat suatu reaksi terjadi. Dalam hal ini, reaksinya adalah inaktivasi virus itu sendiri,” tambahnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement