Kamis 11 Nov 2021 22:00 WIB

Jajang C Noer Bagi Pengalaman Usai Vaksinasi Covid-19

Hingga saat ini, baru 43 persen sasaran vaksinasi lansia mendapatkan dosis pertama.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Qommarria Rostanti
Jajang C Noer bagikan pengalaman setelah divaksinasi Covid-19 (ilustrasi).
Foto: Republika/ Wihdan Hidayat
Jajang C Noer bagikan pengalaman setelah divaksinasi Covid-19 (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seniman dan aktris Jajang C Noer (69) mengatakan, setelah mendapatkan vaksin Covid-19 lengkap dirinya merasa bugar. Jajang telah divaksin di awal-awal pemerintah meluncurkan program vaksinasi Covid-19.

"Sama sekali tidak efek samping. Setelah vaksin pertama bahkan saya berenang, tidak ada masalah,” ujarnya dalam diskusi daring, Kamis (11/11).

Baca Juga

Aktris ini menyebut, sebelum ada pandemi tidak pernah minum vitamin. Namun, begitu masuk Maret 2020, dirinya memminum semua vitamin C, D, E dan zinc setiap hari, D3, hingga empon-empon (jamu).

Selain itu, dia berjemur setengah jam pada pagi hari dan menjaga hati tetap senang. Bagi lansia yang belum mau divaksinasi, Jajang mendorong agar mendengarkan kata pemimpin dan mempertimbangkan apa yang dikatakan.

“Masuk akal atau logis tidak. Kalau logis ya ikuti saja.” ujarnya.

Sedangkan lansia yang belum divaksin karena belum paham, sambungnys, harus didatangi dari rumah ke rumah untuk memberikan penjelasan secara persuasif. Karena, ketidaktahuan para lansia itulah yang membuat mereka belum mau divaksin.

"Harus didatangi door to door, dibujuk,” kata Jajang.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan hingga saat ini, baru 43 persen sasaran vaksinasi lansia mendapatkan dosis pertama. Hal ini justru berbanding terbalik dengan capaian vaksinasi secara umum, di mana 61 persen sasaran sudah tervaksinasi, sehingga kurang sekitar 40 persen yang harus dikejar.

"Targetnya, minimal dosis pertama dikejar sampai akhir Desember 2021. Karena kami tahu, kesakitandan kematian pada usia di atas 59 tahun meningkat enam-tujuh kali lebih tinggi daripada non lansia,”ujar nya.

Dokter spesialis penyakit dalam yang juga vaksinolog, Dirga Sakti Rambe, mengatakan informasi yang keliru atau hoaks masih menjadi tantangan vaksinasi lansia. Menurut Dirga, pada zaman digital sekarang ini hoaks memang tidak terhindarkan, bukan hanya di Indonesia melainkan menjadi fenomena global.

Oleh karenanya, untuk menangkal hoaks, dokter dan ilmuwan semua diharapkan "turun gunung" untuk membanjiri media sosial dan media konvensional dengan berita yang benar dan kredibel. “Salah satu kendala vaksinasi lansia adalah hoaks yang beredar sehingga harus di-counter,” kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement