Rabu 07 Jul 2021 00:05 WIB

Studi: Vitamin D Bantu Pengobatan Covid-19

Sebuah studi meyakinkan bahwa vitamin D bantu pemulihan infeksi virus.

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah
Sebuah studi meyakinkan bahwa vitamin D bantu pemulihan infeksi virus.
Foto: StockSnap
Sebuah studi meyakinkan bahwa vitamin D bantu pemulihan infeksi virus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam pencegahan maupun pengobatan Covid-19, sering kali dikaitkan dengan konsumsi berbagai vitamin. Kali ini sebuah studi juga meyakinkan jika vitamin D dapat membantu dalam pemulihan infeksi virus.

Vitamin D, yang terutama terkait dengan metabolisme tulang dan mineral, telah menunjukkan hasil menjanjikan dalam pengobatan COVID-19, menurut dokter Rumah Sakit  PGI Hospital, dilansir laman Fit Thequint, Selasa (6/7). Penelitian dilakukan oleh Rimesh Pal, Mainak Banerjee, Sanjay K. Bhadada, Anirudh J Shetty, Birgurman Singh dan Abhinav Vyas.

Baca Juga

"Data yang dikumpulkan dari 13 penelitian menunjukkan bahwa vitamin D yang ditambahkan setelah diagnosis COVID-19 mengarah pada peningkatan hasil klinis dalam hal penurunan angka kematian dan/atau penerimaan unit perawatan intensif,” ujar Prof Sanjay K. Bhadada, Ketua Departemen Endokrinologi PGI.

Meringkas bukti klinis yang tersedia, para dokter di Institut Pendidikan dan Penelitian Kedokteran Pascasarjana telah menerbitkan sebuah penelitian dalam Journal of Endocrinological Investigation berjudul “Vitamin D supplementation and clinical outcomes in COVID-19 ,A systematic review and meta-analysis".

Studi ini memberikan banyak dukungan pada fakta bahwa vitamin D dapat digunakan sebagai modalitas pengobatan tambahan yang efektif pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19. Peran anti-virus dan imunomodulator vitamin D akan membantu dalam hal pengobatan.

Hanya, ahli memperingatkan agar tidak menggunakan dosis tinggi, terutama melalui suntikan untuk mencegah virus. Penggunaan vitamin D perlu rasional dan dianjurkan tidak berlebihan.

"Vitamin D, yang ditambahkan sebelum diagnosis COVID-19, tidak ditemukan meningkatkan hasil klinis dalam meta-analisis kami. Sebaliknya, penggunaan berlebihan dapat menyebabkan keracunan vitamin D,” jelas Penulis studi Prof Sanjay K Bhadada dan Rimesh Pal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement