Kamis 20 May 2021 07:21 WIB

Mengenal Sepsis yang Diderita Almarhum Wimar Witoelar

Wimar Witoelar sempat mengalami sepsis sebelum tutup usia.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah
Wimar Witoelar sempat mengalami sepsis sebelum tutup usia.
Foto: dok. Istimewa
Wimar Witoelar sempat mengalami sepsis sebelum tutup usia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid sekaligus seorang aktivis Wimar Witoelar meninggal dunia di umur 75 tahun pada Rabu (19/5). Wimar dikabarkan sempat mengalami sepsis sebelum menutup usia.

Sepsis pada dasarnya merupakan kondisi di mana tubuh memiliki respons berat yang tak biasa terhadap infeksi. Kondisi ini terkadang disebut sebagai septicemia.

Baca Juga

Saat sepsis terjadi, sistem imun tubuh akan melepaskan banyak sekali zat kimia di dalam darah. Hal tersebut memicu terjadinya inflamasi atau peradangan meluas yang dapat menyebabkan kerusakan organ.

Dalam kasus yang berat, sepsis bisa menyebabkan penurunan tekanan darah yang berbahaya. Dokter seringkali menyebut penurunan tersebut sebagai syok sepsis.

 

Ketika terjadi, syok sepsis dapat dengan cepat menyebabkan kegagalan organ seperti pada paru-paru, ginjal, dan hati. Hal tersebut bisa mematikan.

Setidaknya, ada tiga hal yang perlu diketahui untuk bisa memahami sepsis dengan lebih baik. Berikut ini adalah keitga hal tersebut, seperti dilansir WebMD, Kamis (20/5).

 

Penyebab dan Faktor Risiko

Sepsis seringkali disebabkan infeksi bakteri. Akan tetapi, sepsis juga bisa disebabkan oleh infeksi-infeksi lainnya. Infeksi pada tulang bernama osteomyelitis pun dapat menyebabkan sepsis.

Ada beberapa kelompok individu yang memiliki risiko lebih besar untuk mengalami sepsis. Sebagian di antaranya adalah ibu hamil, individu berusia sangat muda, lansia khususnya lansia dengan masalah kesehatan, dan individu dengan masalah sistem imun karena kondisi seperti HIV, kanker, serta penggunaan obat seperti steroid atau obat pencegah penolakan transplantasi organ.

Selain itu, individu yang sedang dirawat di rumah sakit atau baru menjalani operasi besar juga berisiko lebih tinggi mengalami sepsis. Beberapa kelompok lain yang juga berisiko adalah individu yang menggunakan kateter atau selang bernapas, penyandang diabetes, dan individu dengan masalah kesehatan serius seperti radang usus buntu, pneumonia, meningitis, sirosis, atau infeksi saluran kemih.

 

Gejala

Sepsis bisa dimulai dari berbagai bagian tubuh manusia. Hal ini membuat gejala yang timbul pada tiap kasus sepsis bisa berbeda. Secara umum, beberapa tanda awal yang bisa muncul padakasus sepsis adalah bernapas cepat dan kebingungan.

Beberapa gejala lain yang dapat terjadi pada kasus sepsis adalah demam dan menggigil, suhu tubuh sangat rendah, buang air kecil lebih sedikit dari biasanya, dan detak jantung yang cepat. Seseorang yang mengalami sepsis juga bisa mengalami mual dan muntah, diare, lelah atau lemah, perubahan warna kulit, kulit berkeringat atau basah, dan nyeri hebat.

 

Diagnosis

Diagnosis sepsis bisa ditegakkan oleh dokter melalui serangkaian pemeriksaan dan tes. Pemeriksaan dan tes ini dilakukan untuk mencari beberapa hal seperti bakteri di dalam darah atau cairan tubuh lain, tanda infeksi pada pemeriksaan X-RAY, CT scan, atau ultrasound, serta tinggi atau rendahnya angka sel darah putih.

Serangkaian pemeriksaan dan tes ini juga kerap dimanfaatkan oleh dokter untuk melihat jumlah platelet yang rendah di dalam darah, tekanan darah rendah, kondisi asidosis (terlalu banyak asam dalam darah), kurangnya oksigen dalam darah, masalah pada gumpalan darah, kadar elektrolit yang tak seimbang, serta masalah ginjal atau hati.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement