Sabtu 13 Mar 2021 06:58 WIB

WHO Puji RI, Ada Apa?

Indonesia sudah mendapat sekitar 4,1 juta dosis vaksin dalam bentuk jadi.

Tenaga kesehatan saat menyuntikan vaksin Covid-19 di Jakarta (ilustrasi).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Tenaga kesehatan saat menyuntikan vaksin Covid-19 di Jakarta (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memuji langkah proaktif pemerintah untuk mendatangkan vaksin Covid 19. Bahkan, Indonesia mendapat prioritas pertama di antara negara-negara di Asia Tenggara yang mendapat vaksin tersebut. “Untuk itu WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) memberikan apresiasi yang tinggi kepada Indonesia,” kata pengamat imunisasi Dokter Elizabeth Jane Soepardi dalam siaran pers pada Sabtu (13/3).

Menurut anggota Persatuan Ahli Epidemologi Indonesia tersebut, WHO tak perlu bekerja keras karena pemerintah sangat proaktif mengamankan kebutuhan vaksin untuk masyarakat. Presiden Joko Widodo pun meminta semua menteri bekerja keras mendapatkan vaksin dari beragam produsen dan kelembagaan. “Tak cuma menteri kesehatan, tetapi juga menteri-menteri yang lain seperti menteri luar negeri dan menteri keuangan,” ungkap Jane.

Saat ini Indonesia memiliki vaksin yang makin bervariasi. Itu setelah vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca Inggris telah datang ke Indonesia, Senin (8/3). Setelah tiba, sebanyak 1,1 juta dosis vaksin dalam bentuk jadi dibawa ke Bandung untuk disimpan di PT Bio Farma, Bandung.

Vaksin tersebut merupakan tahap pertama dosis dari sekitar 11,7 juta dosis vaksin. Pengirimannya dilakukan secara bertahap dan diperkirakan akan selesai pada Mei 2021. Selain itu, vaksin tersebut sudah mendapat izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang dikeluarkan sehari sesudah kedatangan vaksin.

Fasilitas COVAX melalui WHO dan Unicef (Organisasi PBB yang mengurusi anak-anak dan pendidikan) biasanya diprioritaskan untuk negara-negara miskin seperti negara-negara Afrika. Jane mengatakan, saat ini baru Afrika Selatan yang sudah mendapatkannya sedangkan negara lain akan mendapatkannya pada semester kedua tahun ini. “Nah Indonesia sudah dapat lebih dahulu sejak Januari lalu,” katanya.

Kehadiran pabrik vaksin PT Bio Farma pun turut mendukung kelancaran proses tersebut. Ini karena dengan adanya pabrik vaksin, Indonesia tidak perlu membeli vaksin jadi. Menurutnya, di Asia Selatan dan Asia Tenggara, hanya Indonesia dan India yang punya pabrik vaksin.

Di Bio Farma, adonan (vaksin) itu terus dibuat. Dalam tempo empat minggu, vaksin sudah jadi. “Kalau beli vaksin jadi, volumenya lebih besar dan harganya jadi lebih mahal,” ujarnya.

Sedangkan bila membeli dalam bulk (bahan baku), Bio Farma bisa mengolahnya untuk dibuat vaksin jadi. Satu botol bulk bisa digunakan untuk membuat 8-10 dosis vaksin.

Sampai sekarang Indonesia sudah mendapat sekitar 4,1 juta dosis vaksin dalam bentuk jadi berupa tiga juta dosis dari Sinovac Biotech, Cina dan sisanya dari AstraZeneca. Selain bentuk jadi, Sinovac juga sudah mengirimkan 35 juta dosis dalam bentuk bahan baku(bulk).

Menurut Bambang Heriyanto, juru bicara PT Bio Farma, total bulk vaksin yang akan diterima dari Sinovac sebanyak 140 juta dosis, yang akan diterima secara bertahap hingga bulan Juli 2021 mendatang. Sejauh ini, program vaksinasi masih berjalan dengan lancar dan baik. “Kami optimis program vaksinasi dapat dicapai sesuai target pemerintah,” katanya.

Pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, baik secara langsung dengan perusahaan yang bersangkutan (bilateral) ataupun melalui kelembagaan (Kementerian Luar Negeri) untuk skema pasokan vaksin COVID-19 secara multilateral.

Kapasitas Bio Farma bisa menampung keseluruhan vaksin Covid-19 yang dibutuhkan oleh Indonesia. “Vaksin yang datang tidak selamanya disimpan terus di gudang penyimpanan, tapi tentu akan didistribusikan untuk segera digunakan mengejar program vaksinasi dan mencapai herd immunity,” kata Bambang.

sumber : siaran pers
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement