Selasa 24 Nov 2020 09:45 WIB

6 Manfaat Olahraga untuk Lansia di Atas Usia 50 Tahun

Orang-orang berusia di atas 50 tahun bisa melakukan olahraga yang seimbang.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah
Orang-orang berusia di atas 50 tahun bisa melakukan olahraga yang seimbang (Foto: ilustrasi)
Foto: Sciencealert
Orang-orang berusia di atas 50 tahun bisa melakukan olahraga yang seimbang (Foto: ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Usia tak seharusnya menjadi penghalang bagi seseorang untuk tetap berolahraga. Faktanya, berolahraga ketika berusia di atas 50 tahun justru dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan.

"Bicara mengenai penuaan yang sehat, olahraga mungkin merupakan sesuatu yang paling mendekati obat ajaib," papar dokter keluarga dan ahli geriatri dari Providence Saint John's Health Center Scott Kaiser MD, seperti dilansir LiveStrong, Selasa (24/11).

Baca Juga

Dr Kaiser mengatakan orang-orang berusia di atas 50 tahun bisa melakukan olahraga yang seimbang. Sebagai contoh, olahraga yang melibatkan latihan ketahanan, kekuatan, keseimbangan, dan kelenturan.

Setidaknya ada enam manfaat luar biasa yang bisa didapatkan dari berolahraga saat berusia di atas 50 tahun. Berikut ini adalah keenam manfaat tersebut.

Menjaga Kesehatan Jantung

Seiring dengan bertambahnya usia, menjaga kesehatan jantung menjadi suatu hal yang tak boleh diabaikan. Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada lansia menurut American Heart Association.

Kepala departemen kardiologi Loma Linda University Health Anthony Hilliard MD mengatakan olahraga dapat menurunkan tekanan darah dan memperkuat otot-otot, termasuk otot jantung. Selain itu, olahraga juga bisa membantu mengontrol berat badan.

Untuk menjaga kesehatan jantung, orang-orang berusia di atas 50 tahun tak pelru melakukan olahraga yang berat. Olahraga sederhana seperti berjalan kaki atau hiking sudah dapat menunjang kesehatan jantung.

"Menjaga jantung Anda tetap baik akan memperlambat penuaan kardiovaskular," jelas Dr Hilliard.

Memperlambat Penurunan Kognitif

Beberapa studi mengungkapkan adanya hubungan antara aktivitas fisik dan peurunan risiko demensia. Hubungan antara keduanya dinilai berkaitan dengan sirkulasi darah yang lebih baik karena berolahraga.

"Latihan fisik mempengaruhi otak melalui berbagai cara," tukas ahli bedah saraf dan direktur Skull Base Surgery Kenneth De Los Reyes MD.

Studi dalam jurnal Neurology pada 2019 menemukan bahwa olahraga berkaitan dengan risiko penuruna kognitif yang lebih rendah pada orang dewasa yang lebih tua. Olahraga dapat mendorong terciptanya daya ingat dan konsentrasi yang lebih tajam.

"Dan tidur yang lebih baik serta membangun mekanisme coping untuk kendala mental dan emosional di masa mendatang," tambah Dr De Los Reyes.

photo
Ilustrasi - Lansia. - (millenniumpost.in)

Mayo Clinic juga melaporkan bahwa orang-orang dengan riwayat gemar berolahraga memiliki risiko penyakit kognitif yang lebih rendah di masa mendatang. Oleh karena itu, semakin muda memulai berolahraga akan semakin baik.

Memperkuat Tulang

Osteoporosis atau pengeroposan tulang merupakan salah satu risiko yang akan dihadapi oleh orang-orang berusia lanjut. Akan tetapi, risiko ini bisa ditekan dengan melakukan olahraga.

Olahraga menahan beban merupakan jenis olahraga terbaik untuk menurunkan risiko osteoporosis dan patah tulang di usia lanjut. Beberapa contoh aktivitas menahan beban yang cocok dilakukan saat berusia di atas 50 tahun adalah berjalan kaki, berdansa, menaiki tangga, dan hiking. Orang-orang berusia di atas 60 tahun disarankan menghindari aktivitas menahan beban high impact seperti melompat dan berlari.

Olahraga dapat membantu karena tulang beradaptasi dengan tekanan yang diberikan kepada tulang. Ketika seseorang berolahraga, ada tekanan fisik yang didapatkan oleh tulang. Kondisi ini akan memicu tulang untuk membangun jaringan baru sehingga tulang menjadi lebih padat dan kuat.

Meringankan Perasaan Kesepian dan Depresi

Kesepian dan depresi mungkin akan meningkat di kalangan orang dewasa yang lebih tua. National Council on Aging memperkirakan satu dari empat orang dewasa yang lebih tua hidup dengan gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Kabar baiknya, aktivitas fisik dapat membantu memperbaiki kesehatan mental. Para ahli meyakini olahraga memiliki dampak langsung terhadap hormon yang berkaitan dengan suasana hati, yaitu serotonin.

Studi dalam jurnal Ageing Research Reviews pada 2020 menunjukkan bahwa ada tiga jenis olahraga yang dapat membantu orang dewasa lebih tua untuk mengatasi depresi klinis. Ketiga jenis olahraga tersebut adalah latihan ketahanan, olahraga mind-body, dan aktivitas aerobik.

Mencegah Kehilangan Otot

Sarkopenia atau penurunan massa otot yang berkaitan dengan usia cukup umum ditemukan pada orang dewasa yang lebih tua. Di sisi lain, ada anggapan bahwa massa otot tak bisa lagi dibangun ketika seseorang sudah mencapai usia tertentu.

"Ilmuwan menolak pemikiran ini dan membuktikan bahwa Anda bisa meningkatkan massa otot di usia berapa pun," jelas Dr Kasier.

Salah satu cara terbaik untuk melawan sarkopenia adalah dengan olahraga menurut studi dalam jurnal Aging Clinical and Experimental Research pada 2017. Selain latihan ketahanan, berjalan kaki juga dapat membantu mencegah sarkopenia.

"Kehilangan massa otot dan kekuatan dapat menyulitkan kita untuk menjaga kemampuan kita untuk berfungsi, dan dengan demikian (kondisi ini) merupakan ancaman signifikan terhadap kemandirian kita," ujar Dr Kaiser.

Membantu Tidur Lebih Nyenyak

Olahraga yang dilakukan secara rutin dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Studi dalam jurnal PeerJ juga membuktikan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan kualitas dan durasi tidur yang lebih baik.

Ada anggapan bahwa olahraga di malam hari justru mengganggu tidur. Studi dalam jurnal Sports Medicine mengungkapkan tak ada bukti yang kuat untuk mendukung angapan tersebut.

Berdasarkan temuan ini, orang-orang dinilai bisa memilih waktu olahraga yang paling sesuai untuk diri masing-masing. Akan tetapi, sebaiknya hindari olahraga berintensitas tinggi beberapa saat sebelum jam tidur. Olahraga berintensitas tinggi yang dilakukan dekat dengan jam tidur dapat membuat seseorang sulit tertidur, menurut Harvard Health Publishing.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement