Kamis 27 Aug 2020 18:59 WIB

Tren Covid 19 Menurun, Band Metal di China Bangkit Lagi

Acara konser musik live di Beijing diizinkan untuk dibuka dengan kapasitas 50 persen.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Dwi Murdaningsih
Konser musik (ilustrasi).
Foto: flickriver.com
Konser musik (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Penampilan Shui Shu, vokalis band heavy metal Bliss Illusion, berhasil menghentak panggung metal perdana di Beijing. Panggung musik hingar-bingar ini mampu membius sekitar 200 penonton yang hadir.

Setelah beberapa bulan cuti manggung lantaran pandemi, Shu tampil total dengan suara yang menggelegar dan membuat penonton headbanging, melakukan gerakan mengangguk-anggukan kepala. Seperti biasa, Shu mengenakan tasbih Budha di tangan dan aroma dupa berembus di atas panggung.

Baca Juga

"Panggung ini adalah kencan pertamaku setelah dunia berhenti," kata Shu.

Reuters melaporkan, banyak di antara penonton yang mengenakan masker, namun pada akhir set sebagian besar melepas maskernya. Apalagi ketika band ketiga naik ke panggung, aula itu menjadi area mosh pit dan beberapa penonton refleks melakukan moshing atau slamdancing.

 

Penggemar band metal Brasil, Daniel da Silva Anana yang juga ikut moshing mengaku, dia lebih khawatir tergelincir di lantai yang basah karena minuman yang tumpah daripada virus corona.

“Akhirnya, mantra no-metal-concerts dipatahkan," kata dia seperti dikutip dari Reuters, Kamis (27/8).

Acara konser musik live di Beijing baru-baru ini diizinkan untuk dibuka kembali dengan kapasitas 50 persen, karena kehidupan di China semakin kembali normal.

Band Shui Shu, Bliss-Illusion, adalah bagian dari kancah heavy metal yang cukup eksis di negara ini. Musik yang mereka tawarkan merupakan perpaduan antara genre metal dengan elemen China.

"Black metal adalah bentuknya sedangkan Buddhisme adalah isinya, begitulah musik kami,” kata Shui Shu bercerita tentang musiknya yang terinspirasi dari spiritual Budha dan telah dirilis oleh label Prancis Anesthetize Productions.

Black metal adalah sub-genre yang menciptakan sisi gelap dan moody dengan beat drum super cepat, suara ritme gitar yang seakan beradu dengan drum dan suara vokal seperti jeritan.

"Kami tidak membesar-besarkan rasa sakit, kami mengagungkan kebahagiaan," ungkap Shu di ruang latihan bawah tanahnya beberapa hari sebelum pertunjukan di Omi Space ini.

Pembatasan akibat Covid-19 telah menghentikan latihan dan pertunjukan di kancah musik underground Beijing. Manager club dan promotor juga mengungkap bahwa eksistensi band cadas tengah berada di bawah tekanan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dari otoritas lokal yang terkadang menutup acara.

Shunzi, penyanyi utama band folk-metal Dream Spirit, yang anggotanya tampil dengan pakaian hanfu tradisional China, menggunakan waktu karantina untuk menulis lagu. Ia juga menulis tentang para pekerja yang membangun dua rumah sakit darurat di Wuhan, kota tempat virus corona pertama kali terdeteksi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement