Kamis 06 Aug 2020 08:48 WIB

Dari Santri Jadi Pengusaha Kopi

Suparyoto sempat berniat merantau ke Madinah, namun urung dan mendirikan pesantren.

H. Suparyoto, Pemilik Rumah Kopi Jenderal di Pekon Gunung Terang, Air Hitam, Lampung Barat, Lampung.
Foto: Prayogi/Republika.
H. Suparyoto, Pemilik Rumah Kopi Jenderal di Pekon Gunung Terang, Air Hitam, Lampung Barat, Lampung.

REPUBLIKA.CO.ID, AIR HITAM, LAMPUNG BARAT -- Tumbuh sebagai santri, Suparyoto pernah berencana merantau ke Madinah, Arab Saudi. Namun pertemuan dengan seorang kiai di Bandar Lampung membawanya ke jalur berbeda. Pria kelahiran Semarang ini akhirnya mendirikan pondok pesantren dan total menggeluti bisnis kopi.

Mengenakan peci tapis khas Lampung sambil duduk menikmati kopi, Suparyoto bercerita singkat mengenai perjalanan hidupnya di kediamannya di Rumah Kopi Jenderal, Pekon Gunung Terang, Air Hitam, Lampung Barat, Sabtu (1/8) lalu.

Pria berperawakan sedang dengan tatapan ramah namun tangkas ini mengaku pernah nyantri di Pesantren Darussalam, Blok Agung, Banyuwangi pada sekitar tahun 1988. Ia juga sempat pindah rumah dan menghabiskan hampir 10 tahun di Pondok Pesantren As-Syafi'iyyah di Pondok Gede, Bekasi.

Pada 1993, ia kemudian pindah ke Lampung Barat ke rumah milik orang tuanya bersama istri dan anak pertama. Selang setahun, Haji Paryoto, panggilan akrabnya, kemudian berniat merantau ke Madinah. Di sana, ia ingin mengembangkan potensi menuntut ilmu.

Namun, di tengah persiapan menuju sana, bapak angkatnya, Habib Thohir, salah satu ulama di Lampung, menganjurkan untuk menetap. "Ceritanya kita mau merantau, pengin merantau, ketemu bapak angkat. Semua sudah lengkap, paspor, siap berangkat. Namun, sama almarhum Habib Thohir, dibilangin, 'sama aja berjuang mau dimana saja, sama saja', " kisahnya kepada tim Ekspedisi Republikopi.

Kebetulan, hampir bersamaan, ia bertemu sahabatnya Kiai Haji Jamaluddin Bustomi. Pertemuan dengan pemilik pondok pesantren di Padang Ratu tersebut langsung membuat niatannya luruh. Bersama Kiai Jamal, ia pun diajak membangun pondok pesantren. Pada 1995 pesantren pun didirikan dengan nama nama Roudlotus Sholihin, berlokasi di Pekon Gunung Terang, Kecamatan Air Hitam, Lampung Barat.

"Siswa (Ponpes Roudlotus Sholihin) saat ini kurang lebih mukim 700-an, yang ngalong ada, pulang-pergi dekat rumah. Kalau semua adalah 1.500 (siswa)," ungkap Prayoto menyebutkan jumlah siswa saat ini di ponpes tersebut.

photo
H. Suparyoto, melakukan proses penyangraian di Rumah Kopi Jenderal di Pekon Gunung Terang, Air Hitam, Lampung Barat, Lampung, Sabtu (1/8) - (Republika/Prayogi)

Niat mengurungkan niat ke Madinah juga menetapkan langkah Paryoto makin serius menekuni perkebunan dan bisnis kopi. Selain sudah memiliki lahan yang diwariskan orang tua, ia juga mengaku dekat dengan lingkungan kopi sejak nyantri di Banyuwangi. 

"Kenapa harus tertarik kopi, eh, kebetulan Tuhan memberikan kelebihan di kita ini cocoknya untuk kopi. Ya sudah diterima saja, kayak mana sih kopi itu, jadi sebuah media untuk menyampaikan kita kepada niat beribadah bisa tenang, ekonomi bisa cukup, dengan kopi ini alhamdulillah bisa merembes ke mana-mana," ungkap dia. 

Pengalamannya soal kopi juga ia bawa ke pondok pesantrennya. Di sana salah satu ekstrakulikulernya adalah pembelajaran soal kopi. Tidak hanya teori, namun praktek langsung di kebun sekitar ponpes. Tidak sedikit alumnus ponpesnya yang kini terjun sebagai pengusaha kopi. Salah satunya pemilik merek kopi Hasbuna di Lampung Tengah.

Kini Prayoto dikenal sebagai pemilik Jenderal Kopi. Merek ini, sejak lima tahun lalu, dikenal sebagai salah satu penghasil kopi robusta berkualitas di Lampung Barat. Sebelumnya merek kopinya adalah Kopi Liwa. Namun, belakangan diganti.

"Al-Liwa (dalam bahasa Arab dapat merujuk pada makna) jenderal. Lebih pakai Kopi Liwa ya Kopi Jenderal. Jenderalnya kopi ya Kopi Liwa, kira-kira begitu," kata bapak tiga anak ini mengungkapkan maknanya. 

photo
Jenderal Kopi, salah satu produk kopi robusta dari Pekon Gunung Terang, Air Hitam, Lampung Barat, Lampung, Sabtu (3/8). - (Republika/Prayogi)

Prayoto juga dikenal sebagai salah satu penggagas Kampung Kopi di Desa Rigis Jaya, Air Hitam, Lampung Barat. Kini, bersama rekan-rekannya, ia juga tengah menyiapkan Sekolah Kopi. Sekolah ini bagian dari upayanya untuk membekali anak-anak muda di Indonesia yang ingin belajar soal kopi, mulai dari pembibitan, pascapanen, hingga pengolahan, dan penyajian.

"Kopi Bolivia, Panama itu lebih mendunia, karena memang anak anak mudanya luar biasa. Di kita, rata-rata petani itu berusia lanjut. Belum ada anak anak muda yang tertarik. Masih tertarik menjadi pegawainya. Nah itu, kita lagi tumbuh kembangkan bagaimana caranya anak-anak muda itu kita kembangkan (sebagai petani kopi sukses)," ujar dia. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement