Ahad 05 Jul 2020 07:15 WIB

WHO Harap Hasil Uji Klinis Obat Covid-19 Rampung Dua Pekan

Sejauh ini, hampir 5.500 pasien di 39 negara dilibatkan dalam uji kilinis obat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) harus segera mendapatkan hasil uji klinis terkait obat-obatan yang mungkin efektif mengobati pasien COVID-19 (Foto: ilustrasi penelitian obat Covid-19)
Foto: Anadolu/Eko Siswono Toyudho
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) harus segera mendapatkan hasil uji klinis terkait obat-obatan yang mungkin efektif mengobati pasien COVID-19 (Foto: ilustrasi penelitian obat Covid-19)

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) harus segera mendapatkan hasil uji klinis terkait obat-obatan yang mungkin efektif mengobati pasien COVID-19. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Jumat lalu menyebutkan, hampir 5.500 pasien di 39 negara sejauh ini telah dilibatkan dalam uji coba solidaritas untuk obat Covid-19.

"Kami mengharapkan hasil sementara dalam dua pekan ke depan," katanya saat konferensi pers, merujuk pada riset klinis PBB yang sedang dilakukan.

Baca Juga

Uji coba Solidaritas dimulai dalam lima tahap dengan melihat pendekatan pengobatan potensial COVID-19 dari pengobatan standar, remdesivir, obat anti-malaria, hydroxychloroquine, obat HIV lopinavir/ritonavir, dan lopanivir/ritonavir yang dikombinasikan dengan interferon. Awal bulan ini WHO menghentikan uji coba hydroxychloroquine pada pasien COVID-19 setelah penelitian menunjukkan tidak adanya manfaat dari obat tersebut. Namun banyak pekerjaan yang masih diperlukan untuk melihat apakah obat itu cukup efektif sebagai obat pencegahan.

Kepala program kedaruratan WHO, Mike Ryan, mengatakan, tidak bijaksana untuk memprediksi kapan sebuah vaksin bisa siap melawan COVID-19. Sementara calon vaksin mungkin menunjukkan kemanjurannya pada akhir tahun, pertanyaannya adalah seberapa cepat vaksin itu dapat diproduksi secara massal.

"Tidak ada vaksin yang terbukti melawan penyakit COVID-19 untuk saat ini, sementara 18 calon vaksin sedang diujikan pada manusia," katanya kepada asosiasi jurnalis PBB ACANU di Jenewa.

Pejabat WHO mempertahankan respons mereka terhadap virus yang muncul di China tahun lalu, dengan mengatakan bahwa mereka telah diarahkan oleh ilmu pengetahuan ketika virus itu berkembang. Ryan menuturkan apa yang ia sesalkan adalah bahwa rantai pasokan global putus, sehingga membuat para staf medis tidak memiliki alat pelindung.

"Saya menyesal bahwa tidak ada akses yang merata untuk mendapatkan alat COVID. Saya menyesal bahwa sejumlah negara memiliki lebih banyak dari yang lain, dan saya menyesal bahwa petugas lini terdepan meninggal karena (itu)," katanya.

Ia mendesak negara-negara agar terus mengidentifikasi klaster baru COVID-19, melacak orang yang terinfeksi dan mengisolasi mereka untuk membantu memutus rantai penularan. "Mereka yang duduk di sekitar meja kopi dan berspekulasi serta berbicara (tentang penularan) tidak mencapai apa-apa. Mereka yang mengejar virus mencapai sesuatu," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement