Rabu 24 Jun 2020 20:39 WIB

Sering Merasa Marah, Tanyakan Ini pada Diri Anda

Lekas marah adalah gejala dari beberapa penyakit mental.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Qommarria Rostanti
Ilustrasi Amarah
Foto: Foto : MgRol_94
Ilustrasi Amarah

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Apakah hal kecil bisa membuat marah? Misalnya, lupa kata sandi komputer, lalu lintas macet, atau pasangan yang lupa menyedot debu di rumah?

Para ahli mengatakan, apabila seseorang mudah marah bisa jadi merupakan pertanda sesuatu terjadi. Ada baiknya, Anda melihat lagi ihwal kenapa Anda mudah tersinggung. Kemarahan bisa menjadi tanda masalah kesehatan mental.

"Lekas marah adalah gejala dari beberapa penyakit mental, jadi kita akan menyamaratakan gangguan kecemasan atau depresi," kata seorang psikolog klinis yang berbasis di Sydney, Kate Renshall, dilansir di Abc.net.au, baru-baru ini.

Menurut sebuah studi Monash University baru-baru ini terhadap 1.240 warga Australia antara 3 April dan 3 Mei menyebutkan, baik kecemasan dan depresi menjadi lazim selama pandemi virus corona. Menurut neuropsikolog Monash dan peneliti senior Caroline Gurvich, sebanyak 39 persen wanita dan 29 persen pria yang disurvei melaporkan diagnosis penyakit mental saat ini. Ada baiknya memeriksa gejala-gejala penyakit umum jika merasa lebih mudah marah dibandingkan biasanya.

Kemarahan dapat menutupi emosi lain. Jika hasil pemeriksaan tidak sesuai diagnosa klinis kecemasan atau depresi, kemarahan bisa menjadi tanda stres atau emosi lain. "Bagi orang-orang yang umumnya sehat, yang kami temukan adalah kemarahan sering kali menutupi emosi," ujar Gurvich.

Jika membayangkan emosi sebagai gunung es, Renshall mengatakan kemarahan sering kali adalah emosi yang kita lihat. Namun, ada lebih banyak hal yang terjadi di bawahnya. Hal itu merujuk sebuah metafora yang diciptakan The Gottman Institute.

Mengapa kita terkadang menunjukkan kemarahan sebagai topeng bagi emosi lain? Sebagian karena kemarahan membuat kita merasa kuat. "Ini melibatkan sistem saraf simpatik, jantung Anda berdetak kencang, dan Anda merasa berenergi," kata Renshall.

Kadang-kadang, kemarahan juga dapat menjadi petunjuk bahwa ada masalah dengan cara memperlakukan diri sendiri. Karena itu, sudah waktunya merenungkan apa yang membuat Anda marah.

Luangkan waktu untuk berpikir. Apakah ada sesuatu di sekitar Anda yang membuat marah? Apakah pasangan terlalu berharap banyak dari Anda? Atau pekerjaan Anda menyita waktu lebih banyak dari sebelumnya?

Jika tidak ada alasan yang sah untuk marah, maka penting untuk memikirkan apa yang menjadi dasar amarah. Misalnya, apakah Anda memiliki ketakutan tentang dunia yang menakutkan untuk dipelajari? Bicarakan perasaan yang lebih rentan itu kepada teman, anggota keluarga, atau dokter.

Bagaimana cara agar bisa tenang? Tentu saja, tidak semua kemarahan itu membantu atau menyehatkan. Mengekspresikan kemarahan melalui kekerasan atau agresi tidaklah baik. Hal itu bisa melukai orang dan menghancurkan hubungan. Jika Anda melakukan hal itu, cari bantuan demi orang-orang di sekitar Anda dan diri Anda sendiri.

Jika kemarahan Anda adalah bagian dari kondisi kesehatan mental, penting juga untuk mendapatkan bantuan. Dokter umum dapat berbicara dengan Anda melalui opsi perawatan dan mengatur rencana perawatan kesehatan mental.

Jika kemarahan Anda tidak ganas atau terkait dengan masalah kesehatan mental, Carrangis mengatakan perawatan diri adalah kuncinya. Jika Anda lekas marah, berarti Anda tidak melakukan cukup perawatan diri. "Pastikan makan makanan sehat, berolahraga, dan cukup tidur. "Kami merasakan semua emosi kami lebih intens ketika lelah atau sakit," ujar Renshall.

Cek sendiri tentang seberapa stres atau kewalahan perasaan Anda, dalam skala satu hingga 10. Jika mencapai angka lima, Anda dapat berpikir, apa yang bisa dilakukan dalam hal perawatan diri untuk menurunkan level itu? Ini membantu Anda mengatasinya lebih awal. "Ini tentang mencintai dan mendukung dirimu sendiri," kata Carrangis.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement